85 Detik Lagi ke Tengah Malam, Sinyal Bahaya Terbesar Sejak 1947

85 Detik Lagi ke Tengah Malam, Sinyal Bahaya Terbesar Sejak 1947

Tepat pada tanggal ini bulan lalu, 27 Januari 2026, Doomsday Clock atau Jam Kiamat digeser maju empat detik, dari 89 detik menjadi 85 detik menuju tengah malam. Ini adalah posisi paling dekat dengan “tengah malam” sejak jam simbolis ini pertama kali diperkenalkan pada 1947, tepat setelah Perang Dunia II berakhir dengan bom atom.

Tengah malam dalam konteks ini bukan sekadar angka di jam. Tengah malam adalah metafora untuk kehancuran total peradaban manusia akibat teknologi yang kita ciptakan sendiri.


Apa Itu Doomsday Clock?

Doomsday Clock adalah simbol visual yang diciptakan oleh Bulletin of the Atomic Scientists untuk menunjukkan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran global yang kita buat sendiri. Bukan jam sungguhan yang berdetak, melainkan penilaian tahunan dari panel ilmuwan dan pakar keamanan dunia, termasuk penerima Nobel, yang mengevaluasi ancaman eksistensial yang dihadapi manusia.

Jam ini pertama kali dibuat pada 1947 oleh Martyl Langsdorf, seorang seniman yang mendengarkan perdebatan para ilmuwan Manhattan Project tentang bahaya senjata nuklir. Alih-alih menggunakan simbol uranium seperti yang sempat ia pertimbangkan, ia memilih gambar jam untuk menyampaikan urgensi: kita tidak punya banyak waktu lagi.

Sejak saat itu, jarum jam telah diatur ulang 27 kali berdasarkan perkembangan dunia. Posisi paling jauh dari tengah malam tercatat pada 1991, yaitu 17 menit, ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet menandatangani perjanjian pengurangan senjata nuklir strategis setelah Perang Dingin berakhir.


Mengapa Dipindahkan ke 85 Detik?

Keputusan memajukan jam ke 85 detik pada 2026 bukan main-main. Bulletin of the Atomic Scientists menyebutnya sebagai hasil dari “kegagalan kepemimpinan global” yang sistemik. Alexandra Bell, CEO dan presiden Bulletin, menyatakan dengan tegas: “Ini adalah kebenaran yang keras, tapi ini adalah realitas kita.”

Eskalasi ketegangan nuklir. Konflik antara negara-negara bersenjata nuklir semakin intens sepanjang 2025. Yang paling mengkhawatirkan, perjanjian terakhir yang mengatur persenjataan nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, New START Treaty, akan berakhir pada 4 Februari 2026. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak akan ada yang mencegah perlombaan senjata nuklir yang tidak terkendali.

Ancaman biologi yang berkembang. Dunia belum siap menghadapi ancaman bioteknologi, terutama di area baru seperti pengembangan “synthetic mirror life” yang berpotensi menimbulkan pandemi yang jauh lebih mematikan dari COVID-19. Komunitas internasional tidak memiliki rencana terkoordinasi, dan peringatan berulang dari ilmuwan di seluruh dunia diabaikan.

Kegagalan aksi iklim. Meskipun bukti ilmiah tentang krisis iklim semakin tak terbantahkan, langkah konkret untuk mengurangi emisi tetap jauh dari yang dibutuhkan. Investasi dalam energi terbarukan terus terhambat oleh kebijakan politik yang memprioritaskan bahan bakar fosil.

Penyalahgunaan AI di medan perang dan informasi. Kecerdasan buatan semakin diintegrasikan dalam sistem militer tanpa regulasi yang memadai. Di sisi lain, AI juga digunakan untuk menyebarkan misinformasi dan disinformasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, melemahkan kepercayaan publik pada sains dan fakta.

Baca Juga  Bali Bersiap Larang Botol Plastik 600 ml Mulai 2026, Gubernur: "Harus Dihentikan Total"

Sejarah Pergerakan Jam: Dari Optimisme ke Krisis

Ketika pertama kali diperkenalkan pada 1947, Doomsday Clock diatur pada tujuh menit menuju tengah malam. Ancaman utama saat itu adalah perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang baru dimulai.

Pada 1949, setelah Uni Soviet berhasil menguji bom atom pertama mereka, jam dimajukan ke tiga menit. Titik paling berbahaya sebelum era modern terjadi pada 1953, ketika jam diatur ke dua menit menuju tengah malam setelah kedua negara adikuasa menguji bom hidrogen.

Era paling optimis datang pada 1991, dengan berakhirnya Perang Dingin dan dimulainya perjanjian pengurangan persenjataan, jam diatur mundur ke 17 menit. Dunia tampak aman untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Tapi optimisme itu tidak bertahan lama. Jam mulai bergerak maju lagi sepanjang dekade 2000-an dan 2010-an. Pada 2018, jam kembali ke dua menit untuk pertama kalinya sejak 1953, dipicu oleh kegagalan pemimpin dunia mengatasi ketegangan nuklir dan perubahan iklim.

Lalu datang 2020, ketika jam memasuki era “detik” untuk pertama kalinya: 100 detik menuju tengah malam. Pandemi COVID-19, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan krisis iklim yang memburuk memaksa para ilmuwan mengakui bahwa dunia sudah berada di ambang yang berbahaya.

Pada 2023, jam dimajukan ke 90 detik, terutama karena invasi Rusia ke Ukraina dan potensi perang nuklir yang nyata. Posisi ini dipertahankan pada 2024. Pada 2025, jam dimajukan satu detik ke 89 detik. Dan sekarang, pada 2026, kita berada di 85 detik.


Tiga Ancaman Utama yang Dimonitor

Bulletin of the Atomic Scientists memfokuskan penilaiannya pada tiga kategori ancaman utama:

Senjata nuklir. Sekitar 12.000 hulu ledak nuklir masih ada di dunia, sebagian besar dimiliki oleh Rusia dan Amerika Serikat. Cukup satu kesalahan perhitungan, satu insiden yang salah ditafsirkan, atau satu keputusan impulsif dari pemimpin untuk memicu kehancuran yang tidak bisa dibatalkan. Daniel Holz, ketua Science and Security Board, memperingatkan bahwa negara-negara pemilik senjata nuklir justru meningkatkan ukuran dan peran arsenal mereka, menginvestasikan ratusan miliar dolar dalam senjata yang bisa menghancurkan peradaban berkali-kali.

Perubahan iklim. Suhu global terus meningkat, kejadian cuaca ekstrem semakin sering, dan jendela untuk mencegah kerusakan permanen semakin menyempit. Kegagalan kolektif dalam mengurangi emisi karbon adalah pengingat bahwa ancaman lambat bisa sama mematikannya dengan ancaman cepat.

Teknologi disruptif. AI, bioteknologi, dan teknologi luar angkasa berkembang dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan regulasi. Tanpa framework etika dan hukum yang kuat, teknologi-teknologi ini bisa digunakan dengan cara yang membahayakan seluruh umat manusia. Ancaman baru seperti “mirror life” (organisme sintetis dengan struktur molekul cermin) bahkan belum dipahami sepenuhnya oleh komunitas ilmiah, apalagi diatur oleh pemerintah.


Kritik dan Kontroversi: Apakah Jam Ini Masih Relevan?

Tidak semua orang setuju bahwa Doomsday Clock adalah alat yang efektif. Michael E. Mann, profesor di University of Pennsylvania, menyebutnya sebagai “metafora yang tidak sempurna” karena menggabungkan berbagai jenis risiko dengan karakteristik dan skala waktu yang berbeda. Ancaman nuklir bersifat tiba-tiba dan katastrofik, sementara perubahan iklim adalah ancaman lambat yang terakumulasi.

Baca Juga  5 Fakta Unik Tentang Kucing

Anders Sandberg dari Future of Humanity Institute juga memperingatkan bahwa mencampur berbagai ancaman dalam satu simbol bisa menyebabkan kelumpuhan. Orang mungkin merasa kewalahan dan tidak tahu harus mulai dari mana, alih-alih mengambil langkah kecil yang konkret.

Tapi di sisi lain, jam ini tetap menjadi salah satu simbol paling dikenal di dunia. Ketika mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengutip Doomsday Clock dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB 2021 di Glasgow, itu menunjukkan bahwa simbol ini masih memiliki kekuatan retoris yang besar.

Eryn MacDonald dari Union of Concerned Scientists berpendapat bahwa Bulletin telah membuat keputusan yang bijaksana setiap tahunnya tentang bagaimana menarik perhatian orang terhadap ancaman eksistensial. “Meski saya berharap kita bisa kembali bicara tentang menit alih-alih detik menuju tengah malam, sayangnya itu tidak lagi mencerminkan realitas.”


Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mundurkan Jam?

Bulletin of the Atomic Scientists tidak hanya memberikan peringatan. Mereka juga mengusulkan langkah-langkah konkret yang bisa memundurkan jarum jam:

Amerika Serikat dan Rusia dapat melanjutkan dialog tentang pembatasan persenjataan nuklir mereka. Semua negara bersenjata nuklir dapat menghindari investasi destabilisasi dalam pertahanan misil dan mematuhi moratorium pengujian nuklir eksplosif yang sudah ada.

Melalui perjanjian multilateral dan regulasi nasional, komunitas internasional dapat mengambil semua langkah yang memungkinkan untuk mencegah penciptaan mirror life dan bekerja sama dalam langkah-langkah bermakna untuk mengurangi prospek AI digunakan untuk menciptakan ancaman biologis.

Kongres Amerika Serikat dapat menolak perang Presiden Trump terhadap energi terbarukan, dan sebagai gantinya memberikan insentif dan investasi yang akan memungkinkan pengurangan cepat penggunaan bahan bakar fosil.

Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok dapat terlibat dalam dialog bilateral dan multilateral tentang pedoman yang bermakna terkait penggabungan kecerdasan buatan dalam militer mereka.

Ini bukan daftar yang mustahil. Ini adalah langkah-langkah yang bisa dimulai hari ini jika ada kemauan politik.


Kesimpulan: Peringatan yang Tidak Bisa Diabaikan

85 detik menuju tengah malam bukan sekadar angka simbolis. Ini adalah penilaian dari beberapa ilmuwan paling terkemuka di dunia bahwa kita berada pada titik paling berbahaya dalam sejarah manusia modern. Lebih dekat dari era Perang Dingin, lebih dekat dari krisis rudal Kuba, lebih dekat dari pengujian bom hidrogen.

Yang membuat situasi ini lebih menakutkan adalah bahwa ancaman-ancaman ini tidak datang dari luar. Kita menciptakannya sendiri. Senjata nuklir, perubahan iklim, bioteknologi yang tidak diatur, AI yang tidak terkendali. Semua itu hasil dari pilihan manusia. Dan karena itu, kita juga bisa memilih untuk mengubahnya.

Doomsday Clock adalah pengingat bahwa masih ada waktu, tapi waktunya semakin sedikit. Setiap detik yang terbuang adalah detik yang membawa kita lebih dekat ke tengah malam yang tidak bisa dibatalkan.

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *