Strategi “Chip-Rebate”: AS Siapkan Karpet Merah bagi Big Tech Lewat Kesepakatan Taiwan

Strategi “Chip-Rebate”: AS Siapkan Karpet Merah bagi Big Tech Lewat Kesepakatan Taiwan

WASHINGTON D.C. – Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dilaporkan tengah menggodok kebijakan transformatif yang dapat mengubah peta persaingan teknologi global. Departemen Perdagangan AS berencana memberikan pengecualian tarif impor chip semikonduktor khusus bagi raksasa teknologi seperti Amazon, Google, dan Microsoft.

Langkah ini bukan sekadar insentif biasa, melainkan bagian integral dari kesepakatan perdagangan bilateral terbaru antara Amerika Serikat dan Taiwan yang bertujuan mengamankan rantai pasok kecerdasan buatan (AI) sekaligus memperkuat manufaktur domestik.

Investasi Masif TSMC sebagai Barter

Inti dari kebijakan ini adalah komitmen investasi raksasa dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Sebagai produsen chip kontrak terbesar di dunia, TSMC telah sepakat untuk menginvestasikan dana sebesar USD 165 miliar untuk membangun dan memperluas pabrik (fab) mereka di Arizona.

Secara total, kesepakatan AS-Taiwan ini diproyeksikan akan membawa investasi teknologi hingga USD 250 miliar ke tanah Amerika. Sebagai imbalannya, Washington setuju untuk:

  • Menurunkan tarif timbal balik barang-barang Taiwan menjadi 15% (turun dari 20%).
  • Memberikan kuota impor bebas bea bagi perusahaan yang membangun pabrik di AS.
Skema Pengecualian: Keuntungan Bagi Big Tech

Yang menarik, kebijakan ini memungkinkan TSMC untuk “menyalurkan” pengecualian tarif yang mereka dapatkan kepada pelanggan utama mereka di AS.

  1. Selama Masa Konstruksi: Perusahaan Taiwan yang sedang membangun pabrik di AS diizinkan mengimpor chip bebas tarif hingga 2,5 kali lipat dari kapasitas produksi rencana pabrik tersebut.
  2. Setelah Beroperasi: Perusahaan yang sudah memiliki pabrik aktif diizinkan mengimpor hingga 1,5 kali lipat kapasitas produksinya tanpa dikenakan tarif.

Bagi Amazon, Google, dan Microsoft, skema ini adalah angin segar. Ketiga perusahaan tersebut saat ini sedang berlomba membangun pusat data raksasa untuk mendukung ledakan AI. Tanpa pengecualian ini, tarif tinggi pada chip impor dapat membengkakkan biaya infrastruktur mereka hingga miliaran dolar.

Baca Juga  Zohran : AS Langgar Hukum Federal dan Internasional
Menjaga Ambisi AI Tanpa Mengorbankan Manufaktur

Langkah Departemen Perdagangan ini mencerminkan upaya keseimbangan yang rumit. Di satu sisi, pemerintah ingin menekan perusahaan global agar memindahkan produksi ke AS (kebijakan onshoring). Di sisi lain, mereka tidak ingin biaya tinggi akibat tarif menghambat laju inovasi AI Amerika yang sangat bergantung pada chip canggih dari Taiwan.

Menteri Perdagangan Howard Lutnick sebelumnya telah memberi sinyal bahwa kebijakan ini adalah cara untuk melindungi pengembangan AI AS tanpa merusak strategi perdagangan nasional. “Kami ingin memastikan pembangunan pusat data AI tidak terhenti, sambil tetap mendorong produksi chip fisik di dalam negeri,” ungkap seorang pejabat administrasi sebagaimana dikutip dari Financial Times.

Tantangan dan Reaksi Geopolitik

Meski disambut baik oleh pelaku industri di Wall Street, kebijakan ini bukannya tanpa kritik. Beijing telah menyatakan kecaman keras terhadap kesepakatan AS-Taiwan ini, menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip “Satu China” dan upaya sabotase terhadap rantai pasok global.

Selain itu, kritikus domestik memperingatkan agar program “rebate” ini tidak menjadi “hadiah cuma-cuma” bagi TSMC dan Big Tech tanpa adanya pengawasan ketat terhadap realisasi janji investasi mereka di lapangan. (Rubianto Arby)

Penulis : Rubiyanto Arbi. Editor : Otto Sulaeman

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *