GLP-1 Agonist dan Revolusi Penurunan Berat Badan

GLP-1 Agonist dan Revolusi Penurunan Berat Badan

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia medis disibukkan oleh satu kelas obat yang mengubah paradigma obesitas dan diabetes tipe 2. GLP-1 agonist seperti semaglutide (Ozempic, Wegovy) dan tirzepatide (Mounjaro, Zepbound) bukan sekadar obat penurun berat badan biasa. Mereka menawarkan hasil yang dulunya hanya bisa dicapai lewat operasi bariatrik, tapi dalam bentuk suntikan mingguan atau bahkan kini dalam bentuk pil.

Pada Desember 2025, FDA menyetujui Wegovy dalam bentuk tablet oral, menjadikannya obat GLP-1 oral pertama untuk penurunan berat badan. Ini bukan sekadar kemudahan, ini adalah game changer dalam aksesibilitas pengobatan obesitas.


Apa Itu GLP-1 dan Bagaimana Cara Kerjanya?

GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) adalah hormon alami yang diproduksi usus kita setelah makan. Hormon ini punya beberapa fungsi penting dalam regulasi metabolisme tubuh, termasuk merangsang pelepasan insulin ketika kadar gula darah naik, menekan produksi glukagon (hormon yang meningkatkan gula darah), dan memperlambat pengosongan lambung sehingga kita merasa kenyang lebih lama.

Yang menjadi masalah adalah GLP-1 alami dalam tubuh kita dipecah sangat cepat oleh enzim DPP-4, hanya bertahan beberapa menit. Di sinilah GLP-1 agonist masuk. Obat-obatan ini adalah versi sintetis yang dirancang untuk bertahan jauh lebih lama dalam tubuh, beberapa jam hingga satu minggu penuh, sehingga efeknya bisa dirasakan secara konsisten.

Semaglutide, misalnya, memiliki 94% kesamaan dengan GLP-1 manusia alami tapi dimodifikasi secara kimia agar tahan terhadap degradasi enzim. Hasilnya adalah obat yang bisa diberikan seminggu sekali lewat suntikan subkutan dan tetap bekerja efektif sepanjang minggu.


Hasil yang Luar Biasa dari Studi Klinis

Data dari uji klinis OASIS 4 yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada 2025 menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Partisipan yang menggunakan semaglutide oral 25 mg sekali sehari mencapai penurunan berat badan rata-rata 13,6% dalam 64 minggu, dibanding hanya 2,4% pada kelompok plasebo.

Lebih mengesankan lagi, jika kita hanya menghitung partisipan yang benar-benar patuh pada pengobatan (tidak bolos minum), angka penurunannya mencapai 16,6%. Satu dari tiga orang bahkan mencapai penurunan berat badan 20% atau lebih. Ini adalah angka yang sebanding dengan operasi bariatrik dalam skala tertentu, tapi tanpa perlu pembedahan.

Studi juga menunjukkan bahwa 76,3% partisipan mencapai penurunan berat badan minimal 5%, ambang batas yang secara medis dianggap signifikan dalam mengurangi risiko komplikasi terkait obesitas. Bandingkan dengan hanya 31,3% pada kelompok plasebo.

Yang tidak kalah penting adalah perbaikan pada faktor risiko kardiometabolik. Partisipan mengalami penurunan lingkar pinggang, tekanan darah, kolesterol LDL, dan trigliserida. Pada mereka yang memiliki prediabetes, 71,1% mencapai kadar gula darah normal kembali setelah 64 minggu, dibanding hanya 33,3% pada plasebo.


Bentuk Oral Mengubah Aksesibilitas

Salah satu hambatan terbesar penggunaan GLP-1 selama ini adalah format suntikan. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan ide menyuntik diri sendiri setiap minggu, meskipun jarumnya kecil dan prosesnya relatif mudah. Ketakutan terhadap jarum adalah hal yang nyata dan bisa menjadi penghalang besar dalam kepatuhan pengobatan.

Dengan persetujuan Wegovy oral pada Desember 2025, hambatan ini mulai berkurang. Tablet diambil sekali sehari di pagi hari dengan perut kosong, dengan tidak lebih dari 120 ml air putih. Setelah minum, pasien harus menunggu minimal 30 menit sebelum makan atau minum apapun untuk memastikan penyerapan optimal.

Baca Juga  Polemik Empat Pulau Aceh Singkil: Sengketa Batas, Migas, dan Marwah Tanah Rencong

Novo Nordisk meluncurkan tablet ini dengan harga yang lebih terjangkau dibanding versi suntikan. Dosis awal 1,5 mg ditawarkan seharga $149 per bulan dengan program diskon, jauh lebih murah dari harga standar suntikan Wegovy yang bisa mencapai ratusan dolar per bulan tanpa asuransi.

Penting dicatat bahwa ini bukan sembarang pil. Tablet mengandung SNAC (salcaprozate sodium), sebuah senyawa yang membantu semaglutide diserap melalui lambung. Tanpa SNAC, peptida seperti semaglutide akan langsung dipecah oleh asam lambung sebelum sempat masuk ke aliran darah.


Ekspansi Indikasi di Luar Penurunan Berat Badan

Yang membuat GLP-1 agonist semakin menarik adalah bahwa penggunaannya terus berkembang jauh melampaui diabetes dan obesitas.

Penyakit kardiovaskular. Wegovy adalah GLP-1 pertama yang disetujui FDA untuk mengurangi risiko kejadian kardiovaskular mayor (kematian, serangan jantung, stroke) pada orang dewasa dengan penyakit jantung dan obesitas atau kelebihan berat badan. Studi SELECT menunjukkan bahwa semaglutide menurunkan risiko MACE sebesar 20% dibanding plasebo.

MASH (Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis). Pada Agustus 2025, Wegovy menjadi GLP-1 pertama yang disetujui untuk MASH dengan fibrosis hati tingkat sedang hingga lanjut. Ini adalah kondisi di mana hati mengalami peradangan dan kerusakan akibat penumpukan lemak, yang bisa berkembang menjadi sirosis.

Sleep apnea. Tirzepatide (Zepbound), obat GLP-1 lainnya, menjadi obat pertama yang disetujui untuk sleep apnea pada akhir 2024. Penurunan berat badan yang signifikan terbukti mengurangi episode henti napas saat tidur.

Nefropati diabetik. Ozempic (semaglutide untuk diabetes) kini membawa indikasi untuk nefropati diabetik, kerusakan ginjal akibat diabetes yang merupakan salah satu komplikasi paling serius.

Heart failure dengan preserved ejection fraction (HFpEF). Novo Nordisk sedang menunggu keputusan FDA untuk indikasi ini pada paruh kedua 2025. Data pooled dari studi STEP-HFpEF menunjukkan bahwa lebih banyak pasien mengalami perbaikan klasifikasi fungsional NYHA setelah menggunakan Wegovy dibanding plasebo.


Efek Samping yang Perlu Diperhatikan

Seperti semua obat, GLP-1 agonist tidak bebas efek samping. Yang paling umum adalah gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare. Efek ini biasanya muncul di awal pengobatan dan berkurang seiring waktu ketika tubuh beradaptasi.

Yang lebih serius adalah peringatan kotak hitam (black box warning) tentang potensi tumor sel C tiroid, termasuk karsinoma tiroid meduler (MTC). Studi pada tikus menunjukkan bahwa GLP-1 agonist menyebabkan tumor tiroid, tapi belum jelas apakah hal yang sama terjadi pada manusia. Karena kehati-hatian, obat ini dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat pribadi atau keluarga MTC atau Multiple Endocrine Neoplasia syndrome type 2 (MEN 2).

Laporan post-market juga mencatat kasus pankreatitis akut, obstruksi usus, konstipasi berat hingga impaksi feses, dan aspirasi paru pada pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum. FDA merekomendasikan pasien berhenti menggunakan GLP-1 beberapa hari sebelum prosedur bedah tertentu.

Ada juga kekhawatiran tentang kehilangan massa otot bersamaan dengan lemak. Beberapa studi menunjukkan bahwa hingga 40% penurunan berat badan dari GLP-1 bisa berupa massa lean, bukan hanya lemak. Ini membuat program latihan resistensi dan asupan protein yang cukup menjadi sangat penting bagi pengguna GLP-1.

Baca Juga  Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritik Program Pemerintah

Kontroversi dan Masalah Aksesibilitas

Meskipun efektivitasnya terbukti, penggunaan GLP-1 untuk penurunan berat badan menuai kontroversi. Salah satunya adalah harga. Tanpa asuransi, suntikan Wegovy bisa mencapai $1.300 per bulan di Amerika Serikat. Bahkan dengan asuransi, banyak perusahaan asuransi yang menolak menanggung biaya untuk indikasi penurunan berat badan, menganggapnya sebagai “kosmetik” bukan medis.

Akibatnya, banyak orang yang memilih opsi yang lebih murah tapi berisiko seperti membeli versi compounding (racikan) dari apotek non-resmi, atau bahkan membeli dari pasar gelap. FDA sudah mengeluarkan beberapa peringatan tentang produk palsu dan tidak terregulasi yang beredar.

Kekurangan pasokan juga menjadi masalah besar. Pada puncak popularitasnya di 2023-2024, Ozempic dan Wegovy mengalami shortage parah yang membuat banyak pasien harus menghentikan pengobatan atau beralih ke obat lain. Meskipun FDA mengumumkan bahwa shortage semaglutide sudah teratasi pada Februari 2025, pengalaman ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasokan ketika demand melonjak tiba-tiba.

Ada juga perdebatan etis tentang siapa yang “berhak” mendapat obat ini. Ketika stok terbatas, apakah prioritas diberikan pada pasien diabetes tipe 2 yang memerlukan kontrol gula darah, atau pada pasien obesitas berat dengan komplikasi kardiovaskular? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab.


Masa Depan GLP-1 dan Kompetitor

Pasar GLP-1 tidak akan berhenti di semaglutide. Eli Lilly sudah mengajukan orforglipron, GLP-1 oral mereka sendiri, ke FDA untuk review. Berbeda dengan Wegovy yang harus diminum dengan perut kosong dan menunggu 30 menit, orforglipron bisa diminum kapan saja tanpa batasan makanan atau air. Hasil awal menunjukkan efektivitas yang sebanding.

Ada juga penelitian tentang kombinasi GLP-1 dengan agonis reseptor lain seperti GIP (Glucose-Dependent Insulinotropic Polypeptide). Tirzepatide (Mounjaro, Zepbound) adalah dual agonist GIP/GLP-1 yang menunjukkan penurunan berat badan lebih besar dari semaglutide dalam beberapa studi head-to-head.

Generik juga mulai masuk pasar. Pada Agustus 2025, Teva meluncurkan versi generik liraglutide (Saxenda), menjadi GLP-1 generik pertama untuk penurunan berat badan. Generik dulaglutide (Trulicity) diperkirakan tersedia pada 2027. Ini akan membantu menurunkan harga dan meningkatkan aksesibilitas.


Kesimpulan

GLP-1 agonist merepresentasikan perubahan paradigma dalam cara kita memandang dan menangani obesitas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada obat yang bisa menghasilkan penurunan berat badan signifikan yang sustainable dengan profil keamanan yang relatif baik dan manfaat tambahan untuk jantung, hati, dan ginjal.

Tapi teknologi sendiri tidak cukup. Kita masih perlu mengatasi masalah harga, aksesibilitas, stigma terhadap obesitas, dan memastikan bahwa obat-obatan ini digunakan sebagai bagian dari pendekatan holistik yang mencakup nutrisi, aktivitas fisik, dan dukungan psikososial.

Yang jelas, era di mana obesitas dianggap sekadar masalah “kurang disiplin” sudah berakhir. GLP-1 membuktikan bahwa obesitas adalah kondisi medis kompleks yang melibatkan hormon, metabolisme, dan neurobiologi, dan layak mendapat penanganan medis yang serius.

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *