Mitos 250 Tahun Umur Kerajaan: Benarkah Setiap Imperium Pasti Runtuh di Angka Itu?

Mitos 250 Tahun Umur Kerajaan: Benarkah Setiap Imperium Pasti Runtuh di Angka Itu?

Ada sebuah klaim yang terus beredar di kalangan penggemar sejarah, podcaster ekonomi, hingga pembicara motivasi: setiap kerajaan besar dalam sejarah manusia hanya bertahan sekitar 250 tahun. Setelah itu, tanpa pengecualian, mereka runtuh. Klaim ini terdengar begitu presisi, begitu ilmiah, sehingga mudah sekali kita percaya begitu saja.

Tapi begitulah cara mitos bekerja. Semakin bulat dan rapi sebuah angka, semakin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: ini fakta sejarah, atau ini hanya narasi yang kita pasangkan ke sejarah?

Dari Mana Angka 250 Tahun Ini Berasal?

Angka 250 tahun ini berakar dari esai seorang perwira militer Inggris bernama Sir John Glubb yang berjudul The Fate of Empires and Search for Survival, yang kemudian dipopulerkan oleh berbagai komentator dan media. AAP

Glubb adalah seorang sejarawan amatir yang menghabiskan sebagian besar kariernya bertugas di Irak dan Yordania. Dengan membandingkan serangkaian kerajaan kuno dan modern, ia menyimpulkan bahwa rata-rata umur hegemoni besar adalah sekitar 10 generasi, atau kurang lebih 250 tahun, dan bahwa meskipun terdapat perbedaan besar dalam hal geografi, teknologi, agama, dan budaya, semua kerajaan mengikuti pola umum yang sama saat tumbuh, berkembang, dan akhirnya hancur. Quillette

Glubb berpendapat bahwa setiap kekuatan besar melewati tahapan yang bisa diidentifikasi: Zaman Pelopor, Zaman Penaklukan, Zaman Perdagangan, Zaman Kemakmuran, Zaman Intelektual, dan akhirnya Zaman Dekadensi. Seperti makhluk hidup, kerajaan tumbuh dan kemudian surut. New Acropolis

Di permukaan, kerangka ini terdengar masuk akal dan memiliki daya tarik estetis yang kuat. Sejarah sebagai siklus alam yang terus berulang adalah gagasan yang sudah ada sejak peradaban Roma dan Mesoamerika. Manusia memang suka pola.

Masalahnya: Sejarah Tidak Sesederhana Itu

Satu pertanyaan yang perlu kita ajukan pada setiap teori siklus semacam ini adalah: apakah datanya benar-benar mendukung klaimnya, atau apakah angkanya dipilih agar cocok dengan teori yang sudah ada duluan?

Para ahli sejarah dengan tegas menyatakan bahwa klaim “tidak ada kerajaan yang bertahan lebih dari 250 tahun” adalah salah. Mesir, Ottoman, dan Romawi semuanya bertahan jauh melampaui angka tersebut, dengan Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium sebagai yang paling mencolok karena bertahan sekitar 1.000 tahun. AAP

Mari kita lihat beberapa fakta yang sangat sulit dibantah:

Kekaisaran Byzantium, yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur, dapat ditelusuri asal-usulnya ke tahun 330 Masehi ketika Kaisar Konstantinus membelah Kekaisaran Romawi. Kekaisaran ini terus bertahan hingga 1453, ketika Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan Ottoman. Totalnya, Byzantium berkuasa selama 1.123 tahun. WorldAtlas

Baca Juga  Fakta Puncak Carstensz Yang Hampir Punah

Kekaisaran Sasanid bertahan lebih dari 400 tahun. Kekaisaran Ottoman berdiri sekitar 600 tahun, dari 1300 hingga 1922. Kekaisaran Inggris diperkirakan bertahan setidaknya 400 tahun. AAP

Kekaisaran Venesia memerintah selama lebih dari 1.000 tahun, dari akhir abad ketujuh hingga 1797 Masehi. HowStuffWorks

Angka-angka ini bukan anomali kecil yang bisa diabaikan. Ini adalah bantahan langsung terhadap klaim “tidak ada pengecualian” yang sering diucapkan orang saat menyebut teori 250 tahun.

Masalah Metodologi: Kapan Sebuah Kerajaan Dimulai dan Berakhir?

Salah satu kelemahan paling mendasar dari teori ini adalah pertanyaan yang tampaknya sederhana tapi ternyata sangat rumit: kapan tepatnya sebuah kerajaan dianggap lahir, dan kapan dianggap mati?

Kritik terhadap analisis Glubb menunjukkan bahwa ia menggunakan tanggal-tanggal yang tampaknya arbitrer untuk menandai awal dan akhir suatu kerajaan. Misalnya, penetapan tahun 180 Masehi sebagai akhir Kekaisaran Romawi sebenarnya hanya menandai awal pergolakan internal, bukan kejatuhan sesungguhnya. Blogger

Konstantinopel baru benar-benar jatuh ke tangan Ottoman pada 1453 Masehi, yang berarti entitas Romawi dalam berbagai bentuknya berlangsung sekitar 2.200 tahun, dan Kekaisaran Romawi yang murni sekitar 1.500 tahun. Blogger

Ini adalah masalah besar dalam metodologi Glubb. Jika kita bisa memilih tanggal mulai dan tanggal berakhir secara fleksibel, hampir semua angka bisa “masuk” ke dalam kerangka yang kita inginkan. Ini bukan analisis sejarah yang ketat. Ini lebih dekat ke numerologi sejarah.

Mengapa Teori Ini Begitu Populer Sekarang?

Teori 250 tahun mendapat perhatian besar belakangan ini, dan itu bukan kebetulan. Banyak komentator menggunakan kerangka waktu ini untuk mempertanyakan apakah Amerika Serikat, yang mendekati 250 tahun kemerdekaannya, sedang berada di ambang kejatuhan. AAP

Glubb menyimpulkan bahwa semua kerajaan, kecuali beberapa yang dipotong pendek, bertahan kira-kira selama periode waktu yang sama, terlepas dari bentuk pemerintahan, lokasi, atau teknologi zaman itu, baik transportasi, peperangan, maupun lainnya. The Worthy House

Narasi siklus ini punya daya tarik yang kuat di masa-masa penuh kecemasan. Ketika ekonomi bergejolak, perpolitikan memanas, dan tatanan dunia terasa sedang berubah, orang-orang cenderung mencari pola yang lebih besar untuk menjelaskan kekacauan yang mereka rasakan. Teori 250 tahun memberikan itu: sebuah narasi besar yang terasa pasti dan ilmiah.

Baca Juga  Ini Dia Perusahaan Tambang Nikel di Raja Ampat, Ternyata Punya Hak Spesial

Tapi ada perbedaan besar antara sebuah teori yang terasa memuaskan dan sebuah teori yang akurat secara historis.

Apa yang Sebenarnya Bisa Kita Pelajari dari Glubb?

Ini bukan berarti Glubb tidak punya sesuatu yang berharga untuk disampaikan. Glubb sendiri adalah orang pertama yang mengakui risiko penyederhanaan berlebihan dalam modelnya. Pengamatannya menggambarkan, dalam garis besar, tidak hanya nasib kerajaan-kerajaan masa lalu, tetapi juga situasi kontemporer dalam politik global, khususnya terkait Barat dan China. Quillette

Pola-pola yang ia gambarkan, yakni bagaimana kemakmuran yang terlalu lama melahirkan kemalasan kolektif, bagaimana kemewahan mengikis semangat perintis, dan bagaimana dekadensi budaya sering kali mendahului keruntuhan politik, adalah observasi yang memiliki dasar historis yang cukup kuat. Yang bermasalah adalah ketika pola-pola kualitatif ini diubah menjadi klaim kuantitatif yang presisi: “tepat 250 tahun.”

Seorang profesor dari Oxford mengingatkan bahwa asumsi bahwa kerajaan bersifat siklus itu sendiri masih bisa dipertanyakan. Sebagian besar kerajaan memandang diri mereka sebagai yang sedang bangkit sementara yang lain sedang jatuh, dan mereka berharap untuk menghindari kemunduran kerajaan-kerajaan masa lalu dengan belajar dari mereka. AAP

Bahaya Menerima Mitos Sejarah Mentah-Mentah

Ada konsekuensi nyata dari mempercayai determinisme historis semacam ini. Jika kita meyakini bahwa keruntuhan adalah tak terelakkan, kita cenderung berhenti berusaha mencegahnya. Fatalism menjadi justifikasi untuk pasif.

Sejarah memang berulang, tapi tidak dalam bentuk jadwal yang presisi. Keruntuhan kerajaan bukan seperti tenggat waktu yang sudah ditetapkan di kalender kosmis. Ia adalah produk dari pilihan-pilihan yang dibuat oleh manusia: pemimpin yang korup, institusi yang gagal beradaptasi, masyarakat yang kehilangan kohesi sosialnya. Semua itu bisa terjadi di tahun ke-100 atau tahun ke-800.

Yang jauh lebih berguna dari sekadar menghafalkan angka 250 tahun adalah memahami mengapa kerajaan-kerajaan besar runtuh, pola apa yang berulang dalam proses tersebut, dan pelajaran apa yang bisa kita ambil tanpa harus terjebak pada klaim bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh siklus waktu yang tidak bisa dielakkan.

Sejarah bukan jam tangan. Ia tidak berdetak dengan interval yang sempurna dan teratur. Dan itulah justru yang membuatnya jauh lebih menarik dari sekadar sebuah angka.

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *