JAKARTA – Masyarakat DKI Jakarta mulai merasakan tekanan ekonomi menyusul lonjakan harga sejumlah komoditas pangan pokok di berbagai pasar tradisional. Fenomena ini disebut sebagai “Double Hit” lantaran momentum persiapan bulan suci Ramadhan yang beriringan dengan perayaan Imlek pada pertengahan
Februari 2026.
Berdasarkan pantauan di Pasar Kramat Jati dan Pasar Kebayoran Lama pada Selasa (17/2), kenaikan paling signifikan terjadi pada kelompok bumbu dapur dan protein hewani. Cabai rawit merah, yang menjadi indikator utama inflasi pangan, kini menembus angka Rp 80.000 hingga Rp 85.000 per kilogram, naik hampir 40% dari harga normal.
Komoditas Strategis Merangkak Naik
Tidak hanya cabai, harga beras premium di pasaran kini menyentuh angka Rp 17.900 per kilogram. Meskipun pemerintah telah mengguyur pasar dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) seharga Rp 10.800 per kilogram, stok di tingkat pedagang eceran seringkali habis dalam hitungan jam.
Berikut adalah ringkasan kenaikan harga di pasar-pasar utama Jakarta:
* Daging Sapi: Rp 143.000/kg (Naik dari Rp 130.000).
* Daging Ayam Ras: Rp 41.500/kg (Naik dari Rp 35.000).
* Telur Ayam: Rp 31.500/kg.
* Minyak Goreng Kemasan: Rp 22.000/liter.

Intervensi Pemerintah dan Stok Pangan
Menanggapi situasi ini, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta bersama BUMD pangan seperti Food Station dan Dharma Jaya memastikan bahwa stok pangan untuk wilayah Jakarta dalam kondisi aman hingga Idul Fitri mendatang.
Pemerintah juga mulai menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di kantor-kantor kelurahan dan kecamatan. Program ini menawarkan paket sembako bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh fluktuasi harga ini.
Suara Pedagang dan Konsumen
“Kenaikan ini sangat cepat, hampir tiap dua hari ada penyesuaian harga dari distributor,” ujar Rahman, salah satu pedagang di Pasar Johar Baru. Menurutnya, konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian, misalnya dari satu kilogram cabai menjadi hanya seperempat kilogram.
Di sisi lain, para aktivis buruh dan pengamat sosial mengingatkan bahwa kenaikan harga pangan yang tidak terkendali menjelang Ramadhan dapat memperburuk kesejahteraan pekerja, mengingat upah minimum yang peningkatannya tidak sebanding dengan laju inflasi pangan ( volatile foods ).
Warga dihimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying), serta memanfaatkan kanal resmi seperti aplikasi Info Pangan Jakarta untuk memantau harga terkini sebelum berbelanja.
Penulis : Sumiarto
Editor: Otto Sulaeman

