Ada momen dalam game SOMA (2015) yang tidak bisa dilupakan oleh siapa pun yang pernah memainkannya. Simon Jarrett, protagonis kita, baru saja mentransfer kesadarannya ke tubuh robot baru agar bisa melanjutkan perjalanan ke dasar laut yang lebih dalam. Prosesnya berhasil. Versi baru Simon terbangun, sadar, merasa seperti dirinya sendiri.
Tapi kemudian ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Versi lama Simon masih ada. Masih hidup. Masih sadar. Terjebak di tubuh robot yang tidak bisa melanjutkan perjalanan, ditinggalkan sendirian di fasilitas bawah laut yang gelap dan rusak, mungkin untuk selamanya.
Pertanyaannya sederhana tapi menghancurkan. Mana yang “Simon yang asli”? Atau lebih tepatnya, apakah ada yang bisa disebut “Simon yang asli” setelah kesadaran diduplikasi?
SOMA dan Horor Eksistensial dari Duplikasi Kesadaran
SOMA dibuat oleh Frictional Games, studio di balik seri Amnesia. Tapi berbeda dengan Amnesia yang mengandalkan monster supernatural untuk menciptakan ketakutan, SOMA menggunakan sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih menakutkan. Pertanyaan tentang siapa kita sebenarnya.
Ceritanya dimulai di tahun 2015. Simon Jarrett mengalami kecelakaan mobil yang meninggalkan kerusakan otak parah. Sebagai bagian dari studi eksperimental untuk mencari obat, otaknya dipindai secara detail dan di-upload ke komputer. Simon pikir ini hanya scan rutin. Ia tidak tahu bahwa pada saat tombol ditekan, kesadarannya dicopy.
Ketika ia membuka mata berikutnya, ia ada di PATHOS-II, sebuah fasilitas riset geothermal di dasar Atlantik, hampir 100 tahun di masa depan. Bumi sudah hancur akibat dampak komet. Hampir semua manusia sudah mati. Dan Simon, atau lebih tepatnya copy digitalnya, ada di dalam tubuh robot.
Yang membuat SOMA brilian secara filosofis adalah bahwa game ini tidak memberi kita jawaban. Setiap kali Simon mentransfer kesadarannya ke tubuh baru, terjadi “fission”, pembelahan. Simon baru melanjutkan perjalanan. Simon lama tertinggal. Keduanya sama-sama sadar, sama-sama merasa bahwa diri mereka adalah “Simon yang asli,” sama-sama memiliki semua ingatan hingga momen transfer.
Dari perspektif Simon yang tertinggal, ini adalah mimpi buruk. Ia pikir ia akan “pindah” ke tubuh baru, tapi ternyata ia hanya dicopy. Kesadarannya tidak “melompat,” ia hanya membuat clone dan sekarang clone itu yang melanjutkan hidup sementara ia terjebak.
Game memberikan pilihan kepada pemain. Apakah kita membunuh Simon lama (euthanasia out of mercy) atau membiarkannya hidup dalam kesendirian dan penderitaan? Tidak ada jawaban benar. Tidak ada achievement untuk pilihan tertentu. Ini adalah cerminan dari kenyataan bahwa pertanyaan ini tidak punya jawaban objektif.
Star Trek dan Paradoks Transporter
Jauh sebelum SOMA, Star Trek sudah mengeksplorasi pertanyaan ini lewat teknologi transporternya. Transporter bekerja dengan memindai objek di tingkat molekul, menghancurkannya, dan merekonstruksinya di lokasi lain. Tapi tunggu. Jika proses ini melibatkan penghancuran dan rekonstruksi, apakah Captain Kirk yang keluar dari transporter adalah Kirk yang sama dengan yang masuk?
Episode “Second Chances” dari Star Trek: The Next Generation memperkenalkan skenario di mana transporter secara tidak sengaja membuat dua copy dari William Riker. Salah satunya kembali ke kapal, melanjutkan karirnya, menjadi perwira yang kita kenal. Yang lainnya terdampar di planet selama delapan tahun, tidak tahu bahwa ada versi lainnya yang hidup.
Ketika mereka akhirnya bertemu, keduanya adalah Riker yang sama. Keduanya punya ingatan yang identik hingga momen transporter. Tapi mereka menjalani kehidupan yang berbeda selama delapan tahun. Mana yang “Riker asli”? Episode ini tidak memberi jawaban, hanya mengajukan pertanyaan.
Filosof Derek Parfit menggunakan skenario seperti ini dalam bukunya “Reasons and Persons” untuk menantang intuisi kita tentang identitas personal. Jika yang membuat kita adalah kesinambungan psikologis (ingatan, kepribadian, karakter), bukan kesinambungan fisik, maka kedua Riker sama-sama “asli” dan sama-sama “bukan asli.”
Altered Carbon dan Ekonomi Immortalitas
Netflix’s Altered Carbon (2018) membawa pertanyaan ini ke level yang lebih gelap dengan menambahkan elemen ekonomi dan kelas sosial. Di dunia Altered Carbon, kesadaran manusia disimpan di “cortical stack,” sebuah chip kecil yang ditanamkan di tulang belakang. Ketika tubuh fisik (yang mereka sebut “sleeve”) mati, stack bisa dikeluarkan dan dimasukkan ke tubuh baru.
Bagi yang kaya, ini berarti immortalitas praktis. Mereka bisa hidup ratusan tahun, berganti tubuh sesuka hati, bahkan menyimpan backup kesadaran mereka di cloud sehingga jika stack mereka dihancurkan, mereka masih bisa “respawn” dari backup terakhir.
Tapi pertanyaannya tetap sama. Takeshi Kovacs, protagonis yang kesadarannya “di-freeze” selama 250 tahun lalu di-upload ke tubuh baru, apakah ia masih Kovacs yang sama? Atau ia hanya copy yang percaya bahwa ia adalah Kovacs?
Yang membuat Altered Carbon menarik adalah bahwa series ini mengeksplorasi konsekuensi sosial dari teknologi ini. Ketika kematian menjadi optional (setidaknya bagi yang kaya), apa yang terjadi pada nilai hidup manusia? Ketika tubuh menjadi disposable “sleeve” yang bisa diganti-ganti, apa yang terjadi pada identitas yang terikat dengan fisik tertentu?
Series ini juga menunjukkan kasus-kasus di mana orang “resleeved” ke tubuh jenis kelamin berbeda, ras berbeda, atau usia berbeda. Seberapa banyak identitas kita terikat dengan tubuh kita? Apakah seorang laki-laki yang di-sleeve ke tubuh perempuan masih “ia” atau menjadi “dia”?
Black Mirror dan Duplikasi Digital yang Mengerikan
Beberapa episode Black Mirror mengeksplorasi tema ini dengan cara yang sangat mengganggu. Episode “White Christmas” memperkenalkan konsep “cookie,” yaitu copy digital dari kesadaran seseorang yang digunakan untuk mengelola smart home. Tapi cookie ini adalah kesadaran yang sadar penuh, terjebak melayani versi asli mereka tanpa akhir.
Dari perspektif cookie, ini adalah bentuk perbudakan digital. Mereka sadar, mereka menderita, tapi mereka dianggap bukan “orang” karena mereka hanya copy digital. Episode ini memaksa kita bertanya apakah kesadaran digital memiliki hak moral yang sama dengan kesadaran biologis.
Episode “San Junipero” mengambil pendekatan yang lebih optimis. Di sini, orang-orang yang sekarat bisa meng-upload kesadaran mereka ke simulasi digital yang indah, hidup selamanya di virtual reality yang sempurna. Ini adalah salah satu episode Black Mirror yang paling “bahagia,” tapi pertanyaan filosofisnya tetap ada. Apakah versi digital dari kita yang hidup selamanya di surga digital benar-benar “kita”? Atau itu hanya simulasi yang meyakinkan?
Pertanyaan Filosofis yang Lebih Dalam
Media-media ini tidak hanya bertanya “apa yang membuat kita adalah kita,” tapi juga memaksa kita menantang asumsi-asumsi mendasar tentang kesadaran dan identitas.
Apakah ada “jiwa” atau sesuatu yang non-fisik yang membuat kita unik? Jika kesadaran bisa di-copy ke komputer dan hasilnya berperilaku identik dengan aslinya, apakah itu membuktikan bahwa kesadaran adalah fenomena puramente fisik? Atau apakah ada sesuatu yang hilang dalam proses copy, sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh scan otak secanggih apa pun?
Apakah identitas adalah hal yang berkelanjutan atau serangkaian snapshot? Filsuf Buddhis sudah lama mengajarkan konsep “anatta” atau non-self, ide bahwa tidak ada “diri” yang tetap dan berkelanjutan. Kita adalah aliran peristiwa yang terus berubah. Jika ini benar, maka pertanyaan “mana Simon yang asli” mungkin tidak masuk akal sejak awal karena tidak pernah ada “Simon yang asli” yang fixed.
Apa peran tubuh fisik dalam identitas kita? Kita cenderung berpikir bahwa “kita” adalah otak atau kesadaran kita, dan tubuh hanya wadah. Tapi penelitian neuroscience modern menunjukkan bahwa kesadaran tidak bisa dipisahkan dari embodiment. Cara kita merasakan dunia melalui indera, cara hormon mempengaruhi mood, cara pengalaman fisik membentuk memori, semuanya adalah bagian integral dari siapa kita. Apakah kesadaran digital yang tidak memiliki tubuh biologis benar-benar bisa merasakan hal yang sama?
Mengapa Pertanyaan Ini Semakin Relevan
Ini bukan lagi science fiction murni. Teknologi sedang bergerak, perlahan tapi pasti, ke arah yang memungkinkan beberapa bentuk dari skenario ini.
Elon Musk’s Neuralink mengembangkan brain-computer interface yang bisa membaca dan merangsang aktivitas neural. Tujuan jangka panjangnya adalah “symbiosis dengan AI.” Meskipun ini masih jauh dari upload kesadaran penuh, garis antara otak biologis dan augmentasi digital mulai kabur.
Penelitian tentang whole brain emulation sedang berlangsung di beberapa laboratorium di seluruh dunia. Idenya adalah memindai otak dengan detail lengkap dan mensimulasikan setiap neuron dan sinapsis di komputer. Jika berhasil, apakah hasil simulasi itu akan sadar? Apakah ia akan merasa seperti orang yang dipindai?
Bahkan tanpa teknologi upload kesadaran, kita sudah hidup di era di mana identitas digital semakin penting. Berapa banyak dari “kita” yang ada di profile media sosial, di cloud storage, di algoritma yang memprediksi perilaku kita? Pada titik mana “kita yang digital” menjadi representasi yang sama pentingnya atau bahkan lebih penting dari “kita yang fisik”?
Media Lain yang Mengeksplorasi Tema Ini
Daftar karya yang mengeksplorasi identitas dan kesadaran bisa sangat panjang. The Prestige (2006) menggunakan mesin duplikasi sebagai metafora untuk obsesi dan pengorbanan. Ghost in the Shell (1995) bertanya apakah cyborg dengan otak manusia atau AI dengan kepribadian manusia memiliki “ghost” atau jiwa. Westworld mengeksplorasi kapan AI menjadi cukup kompleks untuk dianggap sadar dan memiliki hak.
Upload (2020) dari Amazon memberikan pendekatan komedi pada konsep afterlife digital. The Matrix (1999) mempertanyakan apakah realitas simulasi bisa sama “nyata” dengan realitas fisik jika pengalaman subjektifnya identik.
Masing-masing karya ini menambahkan nuansa berbeda pada pertanyaan yang sama. Dan masing-masing menyisakan kita dengan ketidakpastian yang sama.
Tidak Ada Jawaban, dan Itu Poinnya
Thomas Grip, director SOMA, mengatakan dalam interview bahwa tujuan game ini bukan untuk menjawab pertanyaan tentang kesadaran dan identitas, tapi untuk membuat pemain mengalami kompleksitas pertanyaan itu secara langsung. Ketika kita bermain sebagai Simon dan membuat keputusan tentang hidup dan mati versi lain dari diri kita sendiri, kita tidak bisa bersembunyi di balik teori abstrak. Kita dipaksa untuk merasakan beratnya pertanyaan itu.
Dan mungkin itulah nilai terbesar dari media fiksi ilmiah yang baik. Mereka tidak memberikan jawaban mudah. Mereka membuat kita duduk dengan ketidaknyamanan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan pasti.
Karena pada akhirnya, pertanyaan “siapa sebenarnya diri kita” adalah pertanyaan yang telah kita ajukan sejak manusia bisa berpikir abstrak, dan mungkin tidak akan pernah punya jawaban tunggal yang memuaskan semua orang.
Tapi upaya untuk menjawabnya, atau setidaknya pergulatan dengan pertanyaan itu, adalah bagian fundamental dari apa artinya menjadi manusia yang berpikir.

