Selamat pagi, Pak Petrus.
Perkenalkan, nama saya Prapti Wahyuningsih, usia 48 tahun. Saya mendapatkan nomor Bapak dari Ibu Shely Rahayu di Purwokerto.
Saat ini saya adalah pasien cuci darah di Rumah Sakit Santosa, Bandung. Prof. dr. Susalit menyarankan saya untuk bergabung dengan komunitas pasien cuci darah.
Sejujurnya, saya sempat sangat takut dan hampir menyerah. Namun setelah mengetahui bahwa ada komunitas pasien cuci darah—tempat orang-orang saling menguatkan—saya berusaha menumbuhkan semangat kembali. Saya ingin bertanya, bagaimana caranya agar bisa bergabung?
Alamat saya di Sukajadi, Bandung.
Salam hangat untuk keluarga Bapak dan juga teman-teman pengurus komunitas. Terima kasih banyak.
Di atas adalah pesan WhatsApp dari Prapti, dan seperti biasanya, aku membalas meski tak saling mengenal. Aku menawarkan dia bergabung dengan cabang KPCDI Bandung. Prapti tampak sangat senang, meski baru sehari kemudian aku menghubungi Ketua Cabang Bandung agar ia dimasukkan ke dalam grup WhatsApp KPCDI Bandung.
Aku juga memberinya informasi tentang fan page “Jiwa-Jiwa Bermesin”, tempat aku menulis kisah para pasien cuci darah, dengan harapan tulisan-tulisan itu bisa memberinya semangat. Saat itu aku tidak memberikan alamat web KPCDI karena sedang down, terkena serangan setelah memuat rilis yang mengkritik penghentian PBI secara mendadak.
Sehari kemudian, Prapti kembali mengirim pesan. Ia menulis bahwa kami pernah bertemu di Ungaran menjelang May Day tahun 2000.
“Dulu panggilanku Iyem, alias Marxsiyem,” tulisnya, seakan mencoba mengingatkanku.
Lamunanku pun menjelajah ke tahun-tahun itu. Aku teringat selepas keluar dari LP Cipinang sempat pulang kampung ke Ambarawa, kota kecil di Kabupaten Semarang yang beribu kota di Ungaran. Aku teringat pernah mengunjungi markas organizer buruh di sana—memang sepanjang Bawen hingga Ungaran adalah sentra industri. Yang kuingat saat itu adalah Sindhu, kader PRD dari Solo yang menjadi pimpinan kolektif pengorganisasian buruh di kawasan tersebut.
Namun setelah Prapti mengirim foto, ingatanku menjadi lebih jelas. Aku memang pernah bertemu dengannya.

Prapti kemudian bercerita bahwa kini ia aktif mendirikan Sekolah Rempah Hijau Lestari. Aku tidak sempat menanyakan detail kegiatannya. Tetapi hari ini, Jumini—temannya—menulis di Facebook bahwa sekolah itu mengajarkan kemandirian kepada petani.
“Beliau mengorganisir petani untuk menanam rempah-rempah dan buah-buahan. Beliau membuat hand body sari pepaya, mie sorgum, abon kluwih, empal bonggol pisang, serta minuman wedang telang dan wedang sinom asem yang rasanya segar dan enak,” tulis Jumini di berandanya.
Hari berikutnya, Iyem mengirim pesan panjang tentang kisahnya menjadi pasien cuci darah. Tampaknya ia ingin bercerita dan mengungkapkan kegundahannya.
Dalam hati kecil, sebenarnya aku sangat takut.
Takut menghadapi hari-hari dengan mesin, jarum, dan rutinitas yang tak bisa ditawar.
Namun ketika menengok perjalanan hidup yang sudah mencapai 48 tahun, rasanya sungguh rugi jika aku menyerah begitu saja.
Sakit itu nyata, capek itu jelas, suntuk itu pasti.
Ada saat-saat ingin berteriak, marah, dan menangis.
Yang paling sering kulakukan adalah menangis.
Tapi bahkan tangis pun kadang terasa hampa—aku bingung, apa lagi yang harus kutangisi.
Dulu, orang sakit sering kali bertambah sakit karena memikirkan biaya.
Sekarang, beban itu sedikit terangkat.
Yang kupikirkan adalah ongkos perjalanan, biaya hidup sehari-hari, dan kebutuhan orang yang mendampingiku.
Tidak ringan, memang.
Namun aku sungguh merasakan pertolongan Tuhan melalui peran negara, lewat pajak yang dibayarkan masyarakat, yang membuat kami—para pasien—masih bisa bertahan dan berobat.
Aku teringat masa lalu.
Saat pertama kali menjalani operasi pengangkatan payudara, BPJS belum ada.
Para sahabat patungan, para dokter memberikan layanan gratis.
Ketika divonis usia tinggal dua bulan, aku hanya berkata dalam hati, “Ya sudah, jalani saja.”
Satu tahun kemudian, mata kananku…
(kisah ini masih bisa kulanjutkan, karena perjalanan hidupku belum selesai).
Minggu, 8 Februari 2025, pukul 11.45 WIB, dia meneleponku. Sayangnya aku sudah tertidur. Senin, saat cuci darah, aku tidak sempat menelepon balik.
Selasa ini aku dikejutkan oleh kabar kepergiannya.
Sedih bercampur menyesal—mengapa aku tidak sempat membalas teleponnya? Mungkin di malam yang selarut itu ia ingin bertanya karena kondisi tubuhnya menurun.
Selamat jalan, pejuang buruh.
Selamat jalan, penyintas gagal ginjal.
Tugasmu di dunia sudah paripurna.
Kini kamu telah sembuh dari sakitmu, dan tidak perlu lagi merasakan perihnya jarum yang menusuk tubuh setiap kali cuci darah.
Oleh Petrus : Mantan Sekjen PRD, sekarang pasien cuci darah.
