Soedirman: Menelusuri Jejak Panglima yang “Kalah” Fasilitas, Namun “Menang” Etika

Soedirman: Menelusuri Jejak Panglima yang “Kalah” Fasilitas, Namun “Menang” Etika

Mengenang 76 tahun wafatnya Panglima Besar Jenderal Soedirman hari ini bukan sekadar seremoni tabur bunga. Di tengah dinamika zaman, sosoknya adalah cermin besar bagi etika kepemimpinan dan moralitas militer yang kian hari kian dipertanyakan relevansinya.

Ini adalah refleksi mengenai keteladanan Sang Panglima dibandingkan dengan realitas militer modern:


Jenderal Soedirman adalah anomali dalam sejarah militer dunia. Ia memimpin perang gerilya bukan dari markas ber-AC atau dari balik meja komando yang megah, melainkan dari atas tandu dengan satu paru-paru yang berfungsi. Namun, kekuatannya tidak terletak pada senjata otomatis, melainkan pada kesatuan rasa antara dirinya dan prajurit paling rendah di barisannya.
1. Nasionalisme yang Rasional dan Hakiki
Bagi Soedirman, nasionalisme bukan sekadar slogan di atas podium atau pamer alutsista mahal. Nasionalismenya bersifat rasional: ia tahu secara fisik militer Indonesia kalah jauh dari Belanda, maka ia memilih strategi gerilya yang menyatu dengan rakyat.
Ia tidak mengedepankan ego pangkat. Baginya, kedaulatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan kenyamanan pribadi. Nasionalisme hakiki Soedirman adalah pengabdian yang tulus—sebuah sikap yang lahir dari kesadaran bahwa tentara adalah anak kandung rakyat, bukan majikan rakyat.
2. Kesederhanaan: Tandu vs Kemewahan
Jika kita membandingkan dengan budaya militer dewasa ini, kita sering melihat jurang yang sangat lebar. Di satu sisi, ada prajurit rendahan yang bergulat dengan cicilan dan keterbatasan fasilitas di daerah perbatasan. Di sisi lain, muncul gaya hidup mewah sebagian oknum petinggi yang kerap kali tidak sinkron dengan kondisi ekonomi bawahannya.
Soedirman memberikan standar yang jauh berbeda:
* Makan yang sama: Ia memakan apa yang dimakan anak buahnya di hutan.
* Tidur di tempat yang sama: Tanah dan dipan kayu menjadi saksi bisu perjuangannya.
* Tandu sebagai simbol beban: Tandunya bukan lambang kasta, melainkan simbol bahwa ia menanggung beban penderitaan bangsa bersama para penggotongnya.
3. Kritik Etika: Ketimpangan yang Tajam
Dalam etika militer modern, istilah “pucuk pimpinan harus melayani” seringkali hanya menjadi teori. Ada ketimpangan yang terasa menyakitkan ketika kesejahteraan jenderal melesat melampaui kelayakan hidup prajurit yang bertaruh nyawa di lapangan.
Keteladanan Soedirman menggugat fenomena ini. Beliau menunjukkan bahwa wibawa seorang jenderal tidak datang dari jumlah bintang di pundak atau deretan mobil dinas, melainkan dari pengorbanan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa memberikan perintah “siap mati” jika ia sendiri hidup dalam gelimang kemewahan sementara anak buahnya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok?
Penutup: Kembali ke “Jiwa Soedirman”
Kepemimpinan militer sejati adalah kepemimpinan yang berbasis empati. Jenderal Soedirman telah membuktikan bahwa militer yang paling ditakuti adalah militer yang pemimpinnya dicintai oleh prajuritnya karena ia adalah yang pertama merasakan lapar dan yang terakhir merasakan kenyang.
Sudah saatnya nilai-nilai kesederhanaan dan nasionalisme hakiki ini dipulihkan. Bukan sekadar dijadikan narasi sejarah, tapi dijadikan standar etika bagi setiap perwira dalam memimpin manusia di bawah komandonya. Karena pada akhirnya, senjata secanggih apa pun tidak akan berarti jika “ruh” kesatuan antara pemimpin dan yang dipimpin telah sirna.
Apakah Anda ingin saya membantu merancang poin-poin pidato atau esai yang lebih spesifik mengenai reformasi budaya militer berbasis nilai-nilai Soedirman ini?

Baca Juga  Kerusuhan di Los Angeles: Bentrokan akibat Operasi Imigrasi ICE dan Kebijakan Deportasi Trump

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *