IHSG “Berdarah”: Dua Hari Beruntun Trading Halt, Sinyal Bahaya dari MSCI

IHSG “Berdarah”: Dua Hari Beruntun Trading Halt, Sinyal Bahaya dari MSCI

MAKNews.com, JAKARTA – Pasar modal Indonesia kembali diguncang aksi jual masif. Untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa membekukan perdagangan (trading halt) selama 30 menit setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok menyentuh batas psikologis 8%.

Setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di kisaran 9.174 awal bulan ini, hari ini IHSG terjun bebas meninggalkan level 8.000 dan terpuruk ke posisi 7.654 pada sesi pagi.
Pemicu Utama: “Kartu Kuning” dari MSCI
Guncangan ini bukan disebabkan oleh fundamental ekonomi domestik yang buruk, melainkan murni akibat sentimen global.

Lembaga penyusun indeks dunia, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan kebijakan keras berupa:
Interim Freeze atau pembekuan sementara penyesuaian bobot saham Indonesia dalam indeks mereka.

Juga adanya suspensi rebalancing,  tidak ada penambahan saham baru asal Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Index (IMI) pada review Februari 2026.

MSCI memberikan peringatan bahwa jika transparansi kepemilikan saham (free float) dan pengawasan manipulasi harga tidak segera diperbaiki, Indonesia berisiko turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market pada Mei 2026.

Mengapa Pasar Begitu Panik?

Kepanikan ini adalah reaksi berantai dari para manajer investasi global. Karena MSCI adalah acuan utama dana pasif triliunan dolar, pembekuan ini menutup pintu bagi aliran dana asing baru masuk ke Indonesia.
Analisis menunjukkan tiga poin krusial:
Foreign Outflow Jumbo: Tercatat net foreign sell (aksi jual bersih asing) mencapai angka fantastis Rp6,12 triliun hanya dalam waktu singkat. Saham-saham blue chip seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM menjadi sasaran utama likuidasi.

MSCI mencurigai adanya struktur kepemilikan saham yang tidak transparan dan indikasi transaksi terkoordinasi di pasar kita. Ini adalah tamparan keras bagi otoritas bursa (BEI) dan OJK.

Baca Juga  Pendapat Warga Terkait Danantara: Ada yang Pro dan Kontra

Risiko Efek Domino

Jika penurunan kelas ke Frontier Market benar-benar terjadi pada Mei nanti, dana asing akan keluar secara paksa (forced sell) karena mandat investasi mereka tidak lagi mengizinkan memegang aset di pasar dengan profil risiko setinggi itu.

Langkah Mitigasi Otoritas

Direktur Utama BEI menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan diskusi intensif dengan MSCI untuk memberikan data transparansi yang diminta. Sementara itu, pelaku pasar kini menanti aksi nyata dari pemerintah dan Danantara (lembaga pengelola investasi baru) untuk melakukan intervensi guna menahan kejatuhan lebih dalam.

Koreksi tajam ini memang menakutkan, namun bagi investor jangka panjang, penurunan harga saham perbankan besar hingga menyentuh batas ARB (15%) bisa menjadi peluang buy on weakness, asalkan otoritas mampu meyakinkan MSCI sebelum tenggat waktu Mei mendatang. (Sum)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *