Di sebuah sudut Dusun Dali, Desa Geneng, Wonogiri, seorang pria tua sering terlihat memanggul cangkul dan bibit pohon menuju lereng Gunung Lawu. Namanya Sadiman. Selama lebih dari 25 tahun, ia melakukan sesuatu yang oleh banyak orang dianggap “gila”: menukar aset hidupnya demi masa depan yang tidak bisa dijual.
BarterĀ untuk Bibit
Tantangan terbesar Pak Sadiman bukanlah medan gunung yang curam, melainkan keterbatasan modal. Beliau tidak mendapatkan bantuan dana dari mana pun. Demi mendapatkan bibit beringin (Ficus) yang dikenal mahal, beliau rela menjual kambing-kambing peliharaannya.
Seringkali, beliau harus menempuh cara barter yang tidak seimbang: membawa bibit cengkeh atau jati hasil semainya sendiri ke pasar, hanya untuk ditukarkan dengan bibit beringin liar yang dianggap warga tidak memiliki nilai ekonomi. Bagi Sadiman, satu bibit beringin jauh lebih berharga daripada sepuluh pohon jati, karena beringin adalah “bendungan alami” yang mampu menyimpan ribuan liter air di bawah tanah.
Sabotase di Tengah Kesunyian
Perjuangan ini penuh luka. Selain cibiran “orang gila”, Pak Sadiman harus menghadapi kenyataan pahit saat hasil kerjanya dirusak:
Pencabutan Paksa: Berkali-kali bibit yang baru ia tanam dicabut paksa oleh pencari rumput yang takut lahan pakan ternaknya tertutup rimbun pohon.
Konflik Domestik: Di rumah, perjuangannya pun tak mulus. Istrinya sempat tidak setuju karena aksi ini menghabiskan harta keluarga tanpa hasil uang. Pak Sadiman bahkan harus sembunyi-sembunyi menyemai bibit di pinggir jalan agar tidak dibuang.
Namun, beliau tak berhenti. Baginya, setiap bibit yang dicabut adalah tanda bahwa ia harus menanam dua kali lebih banyak.
Munculnya “Mata Air” dan Sang Penerus
Setelah dua dekade, alam akhirnya menjawab. Bukit Gendol dan Ampyangan yang dulunya gundul kini menjadi hutan rimbun seluas 250 hektar. Mata air Sendang Gede yang sempat mati kini mengalir deras, menghidupi lebih dari 800 kepala keluarga tanpa pernah kering meski di puncak kemarau.
Kini, Pak Sadiman tidak lagi berjalan sendirian. Muncul sosok Sriyanto, seorang pemuda yang kini menjadi pundak kedua bagi perjuangan ini. Sriyanto bukan hanya sekadar menemani, ia adalah penjaga estafet yang memastikan:
Perlindungan Hutan: Menjaga pohon-pohon tua dari pembalakan liar.
Edukasi Generasi: Mengajak pemuda desa untuk
tidak lagi merusak, melainkan ikut merawat pipa-pipa air yang menjadi urat nadi kehidupan mereka.
Penyemaian Berkelanjutan: Meneruskan teknik penanaman Pak Sadiman agar penghijauan tidak berhenti pada satu generasi.
Warisan yang Tak Pernah Kering
Pak Sadiman mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukan tentang apa yang kita simpan di bank, tapi tentang air yang kita alirkan untuk orang lain. Melalui keteguhannya melawan sabotase dan dukungan dari anak muda seperti Sriyanto, ia membuktikan bahwa satu orang yang gigih bisa memulihkan napas bumi yang hampir mati.
“Jika alam kita jaga, ia akan menjaga kita balik. Saya hanya menanam, airlah yang akan berterima kasih pada anak cucu kita nanti.” ungkap Pak Sadiman.
