Antara Konsep dan Komersialisasi: Membaca Karya Hirst

Antara Konsep dan Komersialisasi: Membaca Karya Hirst

Pada tahun 1991, seorang seniman muda Inggris bernama Damien Hirst menciptakan sebuah karya yang akan menggoyang dunia seni kontemporer dan memicu perdebatan yang masih berlanjut hingga hari ini. Karya tersebut berjudul The Physical Impossibility of Death in the Mind of Someone Living (Ketidakmungkinan Fisik Kematian dalam Pikiran Seseorang yang Hidup) – sebuah hiu harimau sepanjang 4,3 meter yang diawetkan dalam formaldehid di dalam tangki kaca raksasa.

Kelahiran Sebuah Ikon

Kisah di balik karya ini sama dramatis dengan karya itu sendiri. Charles Saatchi, kolektor seni terkemuka, menugaskan Hirst untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Hirst, yang saat itu baru lulus dari Goldsmiths College, memiliki visi yang berani: menempatkan kematian itu sendiri di hadapan penonton.

Hirst mempekerjakan nelayan Australia untuk menangkap hiu harimau (Carcharias taurus), yang kemudian dikirim ke London dan diawetkan dalam larutan formaldehid 5%. Tangki kaca berukuran 7 meter kali 2,1 meter itu menjadi kuburan transparan bagi predator laut yang pernah ditakuti ini.

Damien Hirst, The Physical Impossibility of Death in the Mind of Someone Living, 1991. Artist’s website.
Damien Hirst, The Physical Impossibility of Death in the Mind of Someone Living, 1991

Lebih dari Sekedar Hiu

Apa yang membuat karya ini begitu kuat? Bukan sekadar kehadiran fisik hiu yang mengesankan, tetapi paradoks yang ditawarkannya. Hirst menciptakan momen yang membeku dalam waktu – makhluk yang dulunya hidup, berbahaya, dan bergerak bebas di lautan, kini diam selamanya, namun tetap “hadir” di hadapan kita.

Judulnya yang panjang dan filosofis bukan tanpa alasan. Hirst mengeksplorasi gagasan bahwa sebagai manusia hidup, kita tidak bisa benar-benar memahami kematian. Kita bisa melihatnya, mempelajarinya, bahkan berdiri di hadapannya – seperti pengunjung yang berdiri di depan hiu ini – tetapi esensi sejati kematian tetap tidak dapat dipahami.

Baca Juga  Unud-TNI: Kerja Sama atau Ancaman bagi Kebebasan Akademik?

Kontroversi dan Kritik

Tidak mengherankan, karya ini menuai kontroversi sejak pertama kali dipamerkan. Para kritikus terpecah tajam. Beberapa memujinya sebagai mahakarya yang brilian, sementara yang lain menuduhnya sebagai sensasionalisme murahan.

“Apakah ini seni?” tanya para skeptis. “Apakah memasukkan hewan mati ke dalam tangki adalah seni?”

Pendukung Hirst berpendapat bahwa pertanyaan itulah intinya. Karya ini memaksa kita untuk mempertanyakan apa itu seni, apa itu kematian, dan bagaimana kita menghadapi keduanya. Kehadirannya yang menakutkan namun menarik menciptakan pengalaman yang tidak dapat direplikasi melalui lukisan atau patung tradisional.

Perjalanan dan Restorasi

Karya ini memiliki perjalanan yang panjang. Pada tahun 2004, setelah bertahun-tahun dipamerkan, hiu asli mulai membusuk dan larutan formaldehid menjadi keruh. Hirst memutuskan untuk mengganti hiu tersebut dengan spesimen baru, yang memicu perdebatan baru: jika objek fisiknya diganti, apakah itu masih karya seni yang sama?

Pada tahun 2004, Steve Cohen, manajer hedge fund Amerika, membeli karya tersebut seharga dikabarkan mencapai $8 juta USD, menjadikannya salah satu karya seniman hidup termahal saat itu.

Warisan yang Bertahan

Lebih dari tiga dekade setelah penciptaannya, The Physical Impossibility of Death in the Mind of Someone Living tetap menjadi salah satu karya seni kontemporer paling terkenal dan paling banyak diperdebatkan di dunia. Karya ini meluncurkan Hirst ke puncak dunia seni dan membantunya menjadi salah satu seniman terkaya di dunia.

Karya ini juga membuka jalan bagi gerakan Young British Artists (YBAs) dan mendorong batas-batas apa yang dapat diterima dalam galeri seni.

Refleksi

Mungkin kekuatan sejati karya ini terletak pada kemampuannya untuk terus memicu diskusi. Setiap generasi baru pengunjung datang dengan perspektif mereka sendiri tentang seni, kematian, nilai, dan makna. Hiu itu – atau lebih tepatnya, ide tentang hiu itu – terus hidup dalam imajinasi kita.

Baca Juga  Efisiensi Di Tengah Sistem Koruptif

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *