Pada Maret 2026, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Tarunan Ikrar, melakukan pengawasan langsung di Lotte Grosir Pasar Rebo menjelang Ramadan. Peringatannya keras dan jelas. Masyarakat harus mewaspadai penggunaan bahan berbahaya dalam produk pangan yang masih berpotensi ditemukan di pasaran, terutama boraks, formalin, dan pewarna non-pangan seperti rhodamin B.
Ini bukan peringatan baru. Sudah puluhan tahun BPOM mengeluarkan imbauan yang sama setiap menjelang hari besar keagamaan. Tapi faktanya, masalah ini tidak pernah benar-benar selesai. Pada pemeriksaan takjil Ramadan 2026, dari ratusan sampel yang diuji, 108 sampel dinyatakan tidak memenuhi ketentuan karena mengandung zat berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, hingga metanil yellow.
Angka ini bukan anomali. Ini adalah pola yang berulang setiap tahun. Penelitian di Jayapura menemukan formalin dalam 10-14% jajanan anak sekolah yang diuji di beberapa distrik. Studi di berbagai kota lain juga menemukan hasil serupa. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa banyak konsumen, bahkan produsen kecil, tidak benar-benar memahami bahaya dari bahan-bahan ini.
Artikel ini bukan sekadar daftar bahan berbahaya. Ini adalah panduan komprehensif berbasis regulasi BPOM dan riset toksikologi terkini untuk memahami ancaman nyata yang ada di piring makan kita setiap hari, dan bagaimana melindungi diri dan keluarga.
Formalin yang Seharusnya Hanya untuk Pengawet Mayat
Formalin adalah larutan formaldehida 37% dalam air, sering ditambah metanol hingga 15%. Fungsi utamanya dalam dunia medis dan industri sangat jelas. Pengawet mayat dan spesimen biologis, pembunuh kuman untuk desinfektan lantai dan peralatan, bahan baku pembuatan sutra buatan dan resin, dan bahan pengawet produk kayu.
Tidak ada satu pun dari fungsi di atas yang ada hubungannya dengan makanan. Tapi kenyataannya, formalin masih sering ditemukan dalam mi basah, tahu, ikan, seafood, bakso, bahkan ayam potong. Alasannya sederhana tapi mengerikan. Formalin sangat murah, sangat efektif mengawetkan, dan efeknya tidak langsung terlihat sehingga konsumen tidak sadar.
Dari sisi kesehatan, formalin adalah racun yang sangat serius. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan formaldehida sebagai karsinogen Grup 1, artinya terbukti menyebabkan kanker pada manusia. Penelitian menunjukkan formaldehida dapat menyebabkan kanker nasofaring (hidung dan tenggorokan) dan leukemia.
Paparan akut melalui makanan bisa menyebabkan luka korosif pada selaput lendir saluran pencernaan, disertai mual hebat, muntah, rasa perih yang luar biasa, bahkan perforasi lambung. Efek sistemiknya termasuk depresi susunan saraf pusat, koma, kejang, albumin dan sel darah merah dalam urin, serta asidosis metabolik. Dosis fatal formalin melalui pencernaan pernah dilaporkan sebesar 30 ml, atau sekitar dua sendok makan.
Studi terbaru dalam jurnal Food Chemistry (2025) menjelaskan bahwa formaldehida adalah senyawa reaktif yang dapat menimbulkan berbagai efek toksik pada tubuh, mulai dari gangguan sistem saraf, kerusakan genetik, hingga efek karsinogenik yang nyata.
Ciri-ciri makanan yang mengandung formalin cukup mudah dikenali jika kita teliti. Mi basah yang diberi formalin bertahan lebih dari dua hari tanpa pendingin, tidak lengket, teksturnya lebih kenyal dari seharusnya, dan jika dicium ada aroma menyengat khas formalin. Tahu dengan formalin sangat keras dan kenyal tapi tidak padat, bau agak menyengat, tidak rusak sampai tiga hari pada suhu ruang, dan bertahan lebih dari 15 hari di lemari es. Ikan dengan formalin berwarna putih bersih tidak alami, dagingnya kenyal berlebihan, insang tidak merah segar melainkan merah tua, tidak berbau amis khas ikan melainkan bau menyengat, dan bisa tahan beberapa hari pada suhu 25 derajat.
Boraks yang Dibuat untuk Pembersih dan Pembasmi Kecoa
Boraks atau asam borat (Natrium tetraborat) adalah bahan kimia berbentuk kristal putih atau serbuk yang digunakan dalam industri. Fungsi legitimnya termasuk mematri logam, pembuatan gelas dan enamel, anti-jamur kayu, pembasmi kecoa dan serangga lainnya, antiseptik, campuran pembersih dan deterjen, serta bahan dalam pembuatan keramik dan tekstil.
Sama seperti formalin, tidak ada hubungannya dengan makanan. Tapi boraks sering disalahgunakan sebagai pengawet, pengeras, dan pengenyal. Produk yang paling sering terkontaminasi boraks adalah bakso, kerupuk, lontong, ketupat, mi basah, dan berbagai jajanan pasar yang membutuhkan tekstur kenyal.
Mengapa produsen menggunakan boraks? Karena mudah didapat di toko kimia atau bahkan toko bangunan, harganya sangat murah dibanding pengawet legal, membuat tekstur makanan lebih kenyal dan menarik, serta tidak langsung menimbulkan efek negatif yang kasat mata.
Tapi dari sisi kesehatan, boraks adalah racun yang beracun terhadap semua sel. Jika tertelan, boraks dapat menyebabkan efek negatif pada susunan saraf pusat, ginjal, dan hati. Penelitian dalam jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan menunjukkan paparan boraks dalam makanan dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal, hingga gangguan sistem saraf jika dikonsumsi terus-menerus.
Gejala keracunan akut boraks meliputi mual, muntah, nyeri hebat pada perut bagian atas, pendarahan saluran pencernaan disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan sakit kepala. Pemakaian jangka panjang menyebabkan kulit kering, bercak-bercak merah pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan kronis.
Yang lebih mengerikan, boraks bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker), dapat mengganggu sistem reproduksi, menyebabkan gangguan hormonal, dan bila terakumulasi dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh. Ini berarti semakin sering kita mengonsumsi makanan berboraks, semakin tinggi risiko jangka panjangnya.
Ciri-ciri makanan yang mengandung boraks juga cukup mudah dikenali. Bakso dengan boraks teksturnya sangat kenyal berlebihan, tidak mudah hancur saat digigit, dan bisa bertahan lama tanpa pendingin. Kerupuk dengan boraks sangat renyah dan bertahan lama, teksturnya lebih keras dari kerupuk normal. Mi basah dengan boraks sangat kenyal, tidak lengket, dan tahan lama meski tanpa pendingin.
Rhodamin B untuk Tekstil yang Dijadikan Pewarna Makanan
Rhodamin B adalah zat pewarna sintetis berwarna merah cerah yang seharusnya hanya digunakan untuk industri tekstil (sutra, wool, kapas), kertas, sabun, kayu, plastik, dan kulit. Di laboratorium, rhodamin B digunakan sebagai reagensia untuk pengujian berbagai logam seperti antimon, kobal, emas, mangan, dan air raksa. Sama sekali bukan untuk makanan.
Tapi warna merahnya yang sangat cerah dan harganya yang murah membuat pedagang nakal menggunakannya untuk mempercantik tampilan makanan dan minuman. Produk yang sering terkontaminasi rhodamin B termasuk sirup, es campur, kerupuk merah, pacar cina, agar-agar, kue bolu, sambal terasi, dan berbagai jajanan pasar yang berwarna merah mencolok.
Rhodamin B dilarang untuk pangan melalui Permenkes RI No. 239/Menkes/Per/V/1985 tentang Zat Warna Tertentu yang Dinyatakan Sebagai Bahan Berbahaya. Pelarangan ini bukan tanpa alasan kuat.
Rhodamin B bersifat karsinogenik dan hepatotoksik (meracuni hati). Zat ini diserap oleh saluran pencernaan dan menunjukkan ikatan protein yang sangat kuat, artinya sulit dikeluarkan dari tubuh. Lebih parah lagi, rhodamin B bisa menumpuk di lemak tubuh sehingga lama-kelamaan jumlahnya akan terus bertambah dengan setiap paparan.
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa kerusakan pada hati terjadi akibat makanan yang mengandung rhodamin B dalam konsentrasi tinggi. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan bahkan kanker hati. Efek akut dari konsumsi rhodamin B termasuk iritasi pada saluran pencernaan dan rasa gatal di tenggorokan.
Ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B cukup mudah dikenali. Warna merahnya terlalu cerah, tidak natural, dan cenderung “menyala”. Terasa sedikit pahit saat dikonsumsi. Memiliki bau yang tidak alami atau aneh. Menimbulkan rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya. Jika makanan atau minuman merah yang kita beli memiliki satu atau lebih ciri ini, sebaiknya jangan dikonsumsi.
Metanil Yellow yang Seharusnya untuk Cat dan Tekstil
Metanil yellow atau kuning metanil adalah pewarna sintetis yang digunakan dalam industri tekstil, cat, dan sebagai indikator reaksi netralisasi asam-basa di laboratorium. Sama seperti rhodamin B, ini bukan bahan pangan.
Tapi warna kuningnya yang cerah membuat pedagang menggunakannya untuk berbagai makanan dan minuman. Produk yang paling sering terkontaminasi adalah mi kuning, kerupuk kuning, tahu kuning, dan berbagai jajanan dengan warna kuning yang sangat mencolok.
Metanil yellow juga dilarang untuk pangan melalui Permenkes yang sama dengan rhodamin B. Efek kesehatan dari metanil yellow cukup serius. Konsumsi akut dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak, dan tekanan darah rendah.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjang. Penelitian menunjukkan metanil yellow pada jangka panjang dapat menyebabkan kanker kandung kemih. Seperti rhodamin B, metanil yellow juga dapat menumpuk di tubuh dan efek toksiknya akan semakin parah dengan paparan berulang.
Ciri-ciri makanan yang mengandung metanil yellow mirip dengan rhodamin B. Warna kuningnya terlalu cerah dan tidak natural, tekstur dan rasa agak berbeda dari produk normal, dan sering kali ada rasa atau bau yang sedikit aneh.
Mengapa Bahan Berbahaya Ini Masih Digunakan Meski Sudah Dilarang Puluhan Tahun
Peraturan Menteri Kesehatan yang melarang formalin, boraks, rhodamin B, dan metanil yellow untuk pangan sudah ada sejak 1985 dan 1988. Ini bukan regulasi baru. Sudah hampir 40 tahun. Tapi mengapa masalahnya masih terus berulang?
BPOM mengidentifikasi beberapa faktor utama. Pertama, bahan kimia tersebut mudah diperoleh di pasaran. Formalin dan boraks dijual bebas di toko kimia. Rhodamin B dan metanil yellow dijual di toko bahan tekstil. Tidak ada kontrol ketat terhadap siapa yang membeli dan untuk apa.
Kedua, harganya sangat murah dibanding alternatif legal. Pengawet makanan yang legal seperti natrium benzoat atau asam sorbat jauh lebih mahal. Pewarna makanan legal juga lebih mahal. Bagi produsen kecil yang margin profitnya tipis, perbedaan harga ini sangat signifikan.
Ketiga, efek visualnya sangat menarik. Makanan yang diberi formalin atau boraks memang terlihat lebih segar, lebih kenyal, lebih awet. Makanan yang diberi rhodamin B atau metanil yellow terlihat lebih cerah dan menggugah selera. Konsumen sering tergoda oleh penampilan tanpa tahu bahayanya.
Keempat, efek negatifnya tidak langsung terasa. Tidak seperti keracunan makanan bakteri yang langsung menyebabkan diare atau muntah, efek dari bahan kimia ini muncul perlahan dalam jangka panjang. Kanker hati, kanker kandung kemih, kerusakan ginjal, semua itu butuh bertahun-tahun paparan sebelum gejala muncul. Ini membuat produsen dan konsumen merasa “aman” dalam jangka pendek.
Kelima, informasi tentang bahan berbahaya ini masih terbatas di masyarakat, terutama di daerah. Banyak produsen kecil yang bahkan tidak tahu bahwa bahan yang mereka gunakan itu berbahaya. Mereka hanya mengikuti praktik turun-temurun tanpa pemahaman tentang risiko kesehatan.
Bagaimana Konsumen Bisa Melindungi Diri
Sebagai konsumen, kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pengawasan BPOM. Dengan jutaan produk pangan yang beredar dan ribuan produsen kecil di seluruh Indonesia, pengawasan 100% tidak realistis. Kita harus proaktif melindungi diri sendiri dan keluarga.
Langkah pertama adalah mengenali ciri-ciri fisik produk yang mengandung bahan berbahaya seperti yang sudah dijelaskan di atas. Jika makanan terlihat terlalu sempurna, terlalu cerah, terlalu kenyal, atau terlalu awet, itu adalah red flag.
Kedua, beli dari tempat yang bereputasi baik. Supermarket besar atau pasar swalayan umumnya lebih ketat dalam seleksi supplier dibanding pedagang kaki lima. Meskipun tidak menjamin 100%, risiko mendapat produk berbahaya lebih kecil.
Ketiga, cek label dan izin edar. Produk kemasan yang legal harus memiliki nomor izin edar dari BPOM yang bisa dicek di website BPOM atau aplikasi Cek BPOM. Produk tanpa label atau tanpa izin edar sebaiknya dihindari.
Keempat, jangan terlalu tergoda dengan harga yang terlalu murah. Bakso seharga Rp5.000 per porsi dengan isi banyak dan kenyal banget? Mi basah yang bisa tahan seminggu tanpa kulkas? Kerupuk yang sangat renyah dan tidak tengik meski disimpan berbulan-bulan? Semua itu terlalu bagus untuk jadi kenyataan dan kemungkinan besar ada sesuatu yang tidak beres.
Kelima, edukasi anak-anak tentang jajanan yang aman. Anak-anak adalah konsumen yang paling rentan karena mereka tergoda dengan warna cerah dan rasa manis tanpa memahami risikonya. Ajari mereka untuk tidak membeli jajanan dengan warna yang terlalu mencolok atau dari tempat yang tidak higienis.
Keenam, jika memungkinkan, masak sendiri di rumah. Ini adalah cara paling aman untuk memastikan makanan yang kita konsumsi bebas dari bahan berbahaya. Meskipun membutuhkan waktu dan tenaga, kesehatan keluarga jauh lebih berharga.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah dan BPOM
Pengawasan BPOM memang sudah berjalan, tapi jelas belum cukup efektif mengingat masalah ini terus berulang setiap tahun. Beberapa langkah yang perlu diperkuat.
Pertama, kontrol distribusi bahan kimia berbahaya. Toko kimia yang menjual formalin atau boraks harus diwajibkan mencatat siapa yang membeli, berapa banyak, dan untuk keperluan apa. Penjualan dalam jumlah besar tanpa dokumen yang jelas harus dilarang.
Kedua, sanksi yang lebih tegas dan deterrent. Saat ini, produsen yang tertangkap menggunakan bahan berbahaya sering hanya didenda atau ditutup sementara, lalu buka lagi dengan nama berbeda. Perlu sanksi pidana yang nyata, termasuk penjara, untuk memberikan efek jera.
Ketiga, kampanye edukasi yang masif dan berkelanjutan. Bukan hanya setiap menjelang Ramadan atau Lebaran, tapi sepanjang tahun. Gunakan berbagai media termasuk media sosial, iklan TV, poster di pasar tradisional, dan penyuluhan langsung di komunitas.
Keempat, pembinaan untuk produsen kecil. Banyak UMKM pangan yang sebenarnya ingin menggunakan bahan yang aman tapi tidak tahu caranya atau merasa tidak mampu dari segi biaya. Pemerintah bisa memberikan subsidi atau bantuan modal untuk transisi ke bahan yang legal, disertai training tentang food safety.
Kelima, mempermudah akses ke alternatif yang aman. Pengawet dan pewarna makanan yang legal harus lebih mudah didapat dan harganya lebih terjangkau. Jika alternatif aman lebih sulit dan lebih mahal dari bahan berbahaya, produsen kecil akan tetap memilih yang berbahaya.
Tanggung Jawab Bersama untuk Keamanan Pangan
Keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab BPOM atau pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama dari produsen, distributor, pedagang, dan konsumen.
Produsen pangan, baik besar maupun kecil, harus memahami bahwa menggunakan bahan berbahaya bukan hanya melanggar hukum, tapi juga secara moral salah. Mereka sedang meracuni konsumen mereka sendiri, termasuk mungkin tetangga atau bahkan keluarga mereka sendiri yang tanpa sadar membeli produk mereka.
Pedagang dan distributor harus lebih selektif dalam memilih supplier. Jangan hanya melihat harga murah, tapi juga perhatikan kualitas dan keamanan. Jika ada produk yang mencurigakan, laporkan ke BPOM daripada tetap menjualnya.
Konsumen harus lebih cerdas dan kritis. Jangan asal beli karena murah atau karena terlihat menarik. Investasi sedikit waktu untuk membaca label, mengecek izin edar, atau memilih tempat belanja yang lebih terpercaya bisa menyelamatkan kita dari risiko kesehatan jangka panjang yang jauh lebih mahal.
Media massa juga punya peran penting dalam terus mengangkat isu ini, bukan hanya saat ada kasus besar atau menjelang hari besar keagamaan, tapi secara konsisten sepanjang tahun. Investigasi mendalam tentang rantai distribusi bahan berbahaya atau profil produsen nakal bisa memberikan tekanan yang efektif.
Organisasi masyarakat sipil, asosiasi konsumen, dan komunitas lokal juga bisa berperan dalam monitoring dan advocacy. Mereka bisa melakukan uji sampel mandiri di pasar-pasar lokal dan mempublikasikan hasilnya, memberikan tekanan dari bawah untuk perbaikan.
Pada akhirnya, makanan adalah kebutuhan paling dasar manusia. Kita seharusnya bisa makan tanpa khawatir bahwa yang kita konsumsi perlahan-lahan meracuni tubuh kita. Formalin, boraks, rhodamin B, dan metanil yellow sudah dilarang hampir 40 tahun. Sudah saatnya larangan ini benar-benar ditegakkan, bukan hanya di atas kertas, tapi di setiap pasar, setiap warung, dan setiap dapur produsen di seluruh Indonesia.
Karena setiap bakso yang diberi boraks, setiap mi yang diberi formalin, setiap sirup yang diberi rhodamin B, adalah bukti bahwa kita masih gagal melindungi hal paling dasar, yaitu hak untuk makan makanan yang aman.

