Alarm Ekonomi Lesu : Kredit Investasi Melonjak, Namun Konsumsi dan Modal Kerja Merosot Tajam



MAKNews.com, JAKARTA – Kondisi ekonomi Indonesia di penghujung tahun 2025 menunjukkan anomali yang mengkhawatirkan. Meski angka investasi terlihat mentereng, sektor konsumsi masyarakat dan operasional bisnis justru menunjukkan tanda-tanda kelesuan yang mendalam.


Berdasarkan data Bank Indonesia yang diunggah oleh pengamat ekonomi Awalil Rizky melalui platform X, terdapat kesenjangan lebar (divergensi) pada pertumbuhan kredit perbankan per November 2025.

Grafik Pertumbuhan Kredit Bank Umum, Sumber:  Bright


Investasi Melambung Tinggi

Data menunjukkan bahwa Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan signifikan mencapai 17,80% secara tahunan (year-on-year). Angka ini merupakan titik tertinggi jika dibandingkan dengan periode tahun-tahun sebelumnya. Secara teoretis, lonjakan ini menandakan adanya kepercayaan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi jangka panjang, seperti pembangunan pabrik atau pengadaan infrastruktur.


Sektor Riil dan Daya Beli di Titik Terendah

Namun, optimisme di sisi investasi tidak diikuti oleh denyut nadi ekonomi harian. Dua indikator utama lainnya justru terjun bebas:
* Kredit Konsumsi: Hanya tumbuh 7,20%, yang merupakan level terendah dalam 4 tahun terakhir. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat sedang tertekan atau warga cenderung menahan diri untuk mengambil pinjaman konsumtif.
* Kredit Modal Kerja (KMK): Mencatatkan pertumbuhan paling mengkhawatirkan, yakni hanya 2,50%. Ini adalah angka terendah dalam 5 tahun terakhir.

Ekonomi yang “Mengerem”

Dalam ulasannya, Awalil Rizky menegaskan bahwa anjloknya kredit konsumsi dan modal kerja merupakan refleksi nyata dari kondisi ekonomi yang sedang lesu.

“Kedua jenis terakhir (konsumsi dan modal kerja) mencerminkan lesunya kondisi ekonomi terkini,” tulis Awalil dalam unggahannya.
Rendahnya Kredit Modal Kerja menunjukkan bahwa pelaku usaha saat ini sedang membatasi aktivitas operasional harian mereka, seperti stok barang dan produksi. Jika modal kerja tidak berputar, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi secara agregat akan melambat di masa mendatang, meskipun angka investasi terlihat besar di atas kertas.

Situasi ini memberikan gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini mungkin tidak dirasakan secara merata (timpang). Investasi yang masif nampaknya belum mampu menggerakkan roda konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

Baca Juga  Yes! Mulai Besok Denda Pajak Ranmor di Jakarta Diputihkan

Para pelaku pasar dan pengambil kebijakan kini dituntut untuk memperhatikan lebih detail mengapa modal kerja dan konsumsi melambat di tengah derasnya arus investasi, agar risiko stagflasi atau perlambatan ekonomi yang lebih dalam dapat dimitigasi sejak dini.***

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *