Gaya Arsitektur yang Keras, Jujur, dan Lebih Indah dari yang dibayangkan, Brutalisme dan Indonesia.

Gaya Arsitektur yang Keras, Jujur, dan Lebih Indah dari yang dibayangkan, Brutalisme dan Indonesia.

Ada gaya arsitektur yang ketika pertama kali kita lihat mungkin reaksinya adalah “bangunan apa ini, kok seram?” Beton tebal, bentuk geometris yang masif, tanpa ornamen, tanpa basa-basi. Tapi kalau kita mau sedikit bersabar dan benar-benar menatapnya, ada sesuatu yang menarik di sana. Sesuatu yang jujur. Sesuatu yang kuat. Itulah brutalisme, salah satu aliran arsitektur paling kontroversial sekaligus paling berpengaruh dalam sejarah desain modern, dan Indonesia punya lebih banyak contohnya dari yang kebanyakan dari kita sadari.

Dari Mana Kata “Brutalisme” Berasal? Bukan dari Kata “Brutal”

Salah paham paling umum tentang brutalisme adalah asal-usul namanya. Banyak yang mengira nama ini berasal dari kata “brutal” karena tampilannya yang keras dan mengintimidasi. Kenyataannya, istilah ini berasal dari frasa Prancis “béton brut” yang berarti “beton mentah” atau “beton kasar”. Ini adalah istilah yang dipopulerkan oleh arsitek legendaris Le Corbusier untuk menggambarkan tekstur beton yang tidak diplester, tidak dicat, dan tidak disembunyikan.

Dalam bahasa arsitektur, brutalisme adalah filosofi kejujuran material. Kalau bangunannya dibuat dari beton, maka beton itu harus terlihat. Kalau ada sistem struktur, sistem itu harus bisa dibaca dari luar. Tidak ada yang disembunyikan di balik lapisan cat atau cladding mahal. Apa yang kita lihat adalah apa yang ada.

Kritikus arsitektur Inggris Reyner Banham secara resmi mendefinisikan gerakan ini dalam esainya “The New Brutalism” yang terbit pada Desember 1955, meski pasangan arsitek Alison dan Peter Smithson sudah menggunakan istilah ini lebih awal untuk menggambarkan proyek hunian mereka di Soho, London pada 1953.

Konteks Sejarah: Kenapa Brutalisme Lahir Pasca Perang Dunia II

Untuk memahami brutalisme, kita perlu memahami dunia yang melahirkannya. Setelah Perang Dunia II berakhir, Eropa dalam kondisi hancur. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah di Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya menghadapi tekanan untuk membangun perumahan, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur publik dalam jumlah besar, dalam waktu singkat, dengan anggaran yang sangat terbatas.

Arsitektur brutalisme berkembang pesat dari 1951 hingga 1975, tumbuh dari gerakan arsitektur modernis awal abad ke-20 dan menjadi populer di kalangan klien pemerintah dan institusional di Inggris, Amerika Serikat, Prancis, dan Uni Soviet, bahkan menjangkau Jepang, India, dan Brasil.

Dalam konteks ini, beton mentah bukan pilihan estetika semata. Ini adalah respons pragmatis terhadap kondisi ekonomi yang berat. Beton murah, kuat, bisa dicetak dalam bentuk apapun, dan tidak membutuhkan perawatan permukaan yang mahal. Brutalisme mengubah keterbatasan anggaran menjadi prinsip desain.

Ciri-Ciri Arsitektur Brutalisme yang Perlu Kita Kenali

Ada beberapa karakteristik visual yang membuat bangunan brutalist mudah dikenali. Material utamanya hampir selalu beton, baik yang dicetak di tempat maupun pracetak, dan permukaannya dibiarkan kasar atau bertekstur sesuai bekisting kayu yang digunakan saat pengecoran. Bentuknya cenderung masif, geometris, berulang, dan monolitik, dengan bidang-bidang datar yang kuat dan bayangan yang dramatis tergantung posisi matahari.

Baca Juga  Pemerintah DKI Jakarta Siapkan Pajak 10% bagi 21 Jenis Olahraga Komersial

Yang juga khas adalah cara bangunan brutalist “mengekspos” sistemnya. Pipa, saluran udara, tangga, bahkan struktur penopang sering sengaja dibiarkan terlihat sebagai bagian dari estetika. Ini kebalikan dari arsitektur konvensional yang menyembunyikan semua elemen teknis di balik dinding dan plafon.

Brutalisme juga punya dimensi sosial yang kuat. Banyak bangunan brutalist dirancang sebagai fasilitas publik, perumahan rakyat, universitas, gedung pemerintahan, dan kompleks kebudayaan, yang mencerminkan keyakinan bahwa arsitektur yang baik seharusnya bisa dinikmati oleh semua orang, bukan hanya kalangan elite.

Brutalisme di Indonesia: Warisan Soekarno dan Semangat Nasionalisme

Di Indonesia, brutalisme punya konteks yang sangat spesifik dan sangat menarik. Pembangunan infrastruktur perkotaan pasca-kolonial secara masif terjadi di era demokrasi terpimpin (1959-1966) yang diproklamasikan oleh Presiden Soekarno dalam strateginya menghadapi krisis politik dan pemberontakan tahun 1950-an.

Soekarno adalah seorang yang sangat sadar akan kekuatan arsitektur sebagai pernyataan politik. Soekarno memiliki keinginan besar untuk membangun bangunan monumental yang kokoh dan abadi. Ia ingin Jakarta, sebagai ibu kota negara baru yang baru merdeka, bisa berbicara kepada dunia melalui bangunan-bangunannya. Dan beton mentah adalah bahasa yang ia pilih.

Kunjungan kenegaraan Soekarno ke India pada 1950 memberi inspirasinya. Soekarno membandingkan kota New Delhi yang megah dengan kondisi Jakarta, dan dari sana lahirlah ambisi untuk membangun karakter bangsa modern melalui arsitektur yang kokoh dan monumental.

Hasilnya adalah serangkaian bangunan yang hingga hari ini masih berdiri dan menjadi penanda visual Jakarta dan kota-kota besar Indonesia.

Contoh Bangunan Brutalis Ikonik di Indonesia

Gedung Sekretariat ASEAN / Bekas Gedung CONEFO, Jakarta

Ini mungkin proyek paling ambisius Soekarno dalam semangat brutalisme. CONEFO, Conference of the New Emerging Forces, adalah gagasan Soekarno untuk membuat tandingan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berpihak pada negara-negara berkembang. Gedungnya dirancang megah dengan beton yang masif dan bentuk yang tegas. Setelah Soekarno jatuh, gedung ini beralih fungsi dan kemudian menjadi kantor Sekretariat ASEAN.

Kampus UI Rawamangun, Jakarta

Universitas Indonesia di Rawamangun adalah salah satu contoh bangunan brutalis di era Soekarno yang digunakan sebagai gedung kampus. Kompleks ini dibangun dengan logika beton yang terbuka, massa yang kuat, dan sirkulasi antar bangunan yang terencana. Meski saat ini kampus utama UI telah berpindah ke Depok, bangunan-bangunan peninggalan era Rawamangun ini masih bisa ditemukan dan menjadi saksi bisu semangat modernisme Indonesia di tahun 1960-an.

Baca Juga  DPR Diam-Diam Bahas RUU TNI di Hotel Mewah

Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang Lama, Jakarta

Di era Soekarno, gaya brutalis juga digunakan untuk bangunan pasar seperti Pasar Senen, Pasar Blok A, dan Pasar Tanah Abang Lama, yang semuanya dibangun dengan beton dan awalnya dibiarkan tanpa cat. Ini menunjukkan bahwa brutalisme di Indonesia bukan hanya untuk bangunan prestisius, tapi juga untuk fasilitas rakyat sehari-hari.

Brutalisme Tropis: Adaptasi Gaya Eropa ke Iklim Nusantara

Salah satu diskusi paling menarik dalam arsitektur kontemporer Indonesia adalah soal “brutalisme tropis”. Brutalisme asalnya lahir di iklim dingin Eropa, di mana beton padat membantu menyimpan panas. Lalu bagaimana ia bisa berfungsi dan bahkan berkembang di Indonesia yang panas dan lembab?

Jawabannya terletak pada adaptasi cerdas. Arsitek-arsitek Indonesia, baik di era Soekarno maupun generasi kontemporer, belajar memanfaatkan massa beton yang tebal sebagai thermal mass yang meredam panas, memanjangkan overhang dan kanopi untuk perlindungan dari matahari tropis, mengintegrasikan vegetasi dan air ke dalam komposisi bangunan sebagai elemen pendingin alami, serta merancang bukaan angin yang memungkinkan sirkulasi udara lintas bangunan tanpa mengorbankan karakter masif yang menjadi ciri khas brutalisme.

Hasilnya adalah sebuah varian lokal yang tidak persis sama dengan brutalisme Eropa, tapi tetap setia pada prinsip intinya yaitu kejujuran material dan keberanian struktural.

Kebangkitan Brutalisme: Dari Dicaci Menjadi Dicintai

Nasib brutalisme mengalami pasang surut yang dramatis. Di tahun 1980-an dan 1990-an, banyak bangunan brutalis dihancurkan karena dianggap tidak estetis dan gagal secara sosial, terutama kompleks perumahan brutalis di Inggris yang identik dengan kemiskinan dan kriminalitas. Kritikus menyebutnya “arsitektur yang membenci penghuninya”.

Tapi di era 2010-an hingga sekarang, terjadi kebangkitan apresiasi yang luar biasa terhadap brutalisme. Generasi muda menemukan estetika brutalisme melalui Instagram dan Pinterest. Fotografer dari seluruh dunia berburu bangunan brutalis untuk dijadikan latar foto. Gerakan SOS Brutalism bahkan lahir sebagai upaya global untuk mendokumentasikan dan melindungi bangunan-bangunan brutalis yang terancam dibongkar.

Di Indonesia, kesadaran serupa mulai tumbuh. Komunitas arsitek dan penggemar heritage mulai mendokumentasikan bangunan-bangunan beton era Soekarno dan Orde Baru yang banyak terancam oleh proyek renovasi atau pembongkaran demi pembangunan baru.

Ada ironi yang manis di sini. Bangunan yang dulu dibangun atas nama pragmatisme dan efisiensi kini dilihat sebagai warisan budaya yang berharga. Beton kasar yang dulu dianggap tanda kemiskinan desain kini diapresiasi sebagai kejujuran estetika. Dan di tengah dunia yang semakin dipenuhi fasad kaca mengkilap dan cladding plastik, kesolidan beton mentah terasa seperti sesuatu yang semakin langka dan semakin berarti.

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *