JAKARTA – Aksi teror menyasar kediaman Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pujiati, di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026). Rumah aktivis yang konsisten memperjuangkan nasib pengemudi ojek daring (ojol) dan kurir ini dilempari telur busuk dan cairan kental berwarna merah menyerupai darah.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini diketahui saat Lily, yang akrab disapa Bunda Lily, baru saja kembali ke rumah sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WIB. Sebelumnya, ia meninggalkan rumah sejak pagi setelah beraktivitas rutin menyiapkan dagangan nasi uduknya.
“Sampai di depan pintu yang tertutup, saya mencium bau busuk sangat menyengat. Ternyata di sekitar pintu berserakan kulit telur yang cukup banyak, kira-kira sekilo, dan ada cairan kental warna merah seperti darah,” ujar Lily saat diwawancarai awak media.
Kejadian tersebut sempat membuat Lily panik. Sebagai seorang perempuan, ia mengaku merasa terancam dan ketakutan atas perlakuan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Narasi Kebencian di Media Sosial
Teror fisik tersebut rupanya berbarengan dengan munculnya serangan di media sosial. Lily menemukan flyer digital yang berisi narasi kebencian dan ajakan boikot terhadap dirinya. Pesan tersebut bertuliskan:
“BOIKOT LILY. LILY SPAI BUKAN OJOL. DIA PENJUAL NASI UDUK DI JAKARTA. LAGI CARI PANGGUNG LEWAT OJOL.”
Lily mempertanyakan motif di balik serangan sistematis ini. Ia merasa bingung dengan narasi boikot tersebut karena posisinya sebagai aktivis murni untuk memperjuangkan hak-hak pengemudi, termasuk perlindungan jaminan sosial dan kepastian pendapatan minimum.
Langkah Hukum
Merespons ancaman tersebut, Lily Pujiati berencana membawa kasus ini ke jalur hukum. Didampingi suami dan anggota SPAI, ia akan mendatangi Polda Metro Jaya pada Kamis (5/2/2026).
“Besok saya akan melapor ke Polda Metro Jaya untuk berkonsultasi mengenai delik hukum yang layak diproses. Saya juga berencana ke LPSK Jakarta karena jiwa saya merasa sangat terancam,” tegasnya.
Hingga kini, pelaku di balik aksi teror dan penyebaran narasi kebencian tersebut masih belum diketahui. Lily berharap aparat kepolisian dapat segera mengusut tuntas kasus ini demi menjamin keamanan dirinya sebagai warga negara dan aktivis perempuan.


