Setiap tahun, sistem pengadaan pemerintah Indonesia menghasilkan lebih dari tiga juta baris data paket belanja negara. Jumlah itu terlalu besar untuk diperiksa secara manual oleh siapa pun. Nemesis Assai hadir dengan premis sederhana: jika data itu publik, dan AI bisa membacanya lebih cepat dari manusia, kenapa tidak gunakan keduanya untuk mengawasi anggaran negara secara terbuka?
Apa Itu Nemesis Assai?
Nemesis Assai adalah sistem audit berbasis AI yang dirancang sebagai early warning system untuk mendeteksi potensi pemborosan, markup, hingga ketidakwajaran dalam pengadaan barang dan jasa di tingkat kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah. Platform ini digagas oleh Abil Sudarman, seorang AI engineer sekaligus pengajar di bidang kecerdasan buatan, bersama tim Assai.id, dan dirilis ke publik pada 18 April 2026.
Ini bukan produk komersial. Seluruh metodologi bersifat open source dan seluruh temuan dipublikasikan. Data yang diolah bersumber dari Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), platform milik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang memuat rencana pengadaan nasional.
Cara Kerjanya
Secara metodologis, Nemesis bekerja melalui lima tahapan: menarik data SiRUP melalui endpoint publik, membersihkan dan mendeduplikasi teks paket, menggunakan model bahasa besar (LLM) untuk memberi penilaian awal terhadap potensi kejanggalan, menghitung distribusi label anomali per wilayah atau instansi, lalu auditor manusia melakukan verifikasi terhadap paket yang dianggap prioritas.
Model yang digunakan adalah GPT-5.4 tanpa fine-tuning, dengan data SiRUP versi 10 April 2026 yang dianalisis pada 14 April 2026. Setiap paket pengadaan diberi salah satu dari empat label risiko: medium untuk kejanggalan administratif atau selisih harga tipis, high untuk indikasi markup signifikan atau ketidaksesuaian spesifikasi, dan absurd untuk pengadaan yang dari judulnya saja sudah tidak masuk akal secara konteks anggaran publik.
Temuan yang Viral
Contoh pengadaan yang ditandai oleh sistem ini antara lain kendaraan Range Rover senilai Rp8,5 miliar untuk pemerintah provinsi, meja billiard Rp400 juta, akuarium Rp100 juta, dan biaya pemeliharaan akuarium Rp153 juta di area kerja pimpinan kementerian. Temuan-temuan ini yang kemudian viral di media sosial dan membuat Nemesis mendapat perhatian luas dalam hitungan hari setelah diluncurkan.
Perlu dicatat, Nemesis mendeteksi berdasarkan judul paket dan konteks, bukan faktur atau realisasi belanja. Data di dalam platform merupakan hasil klasifikasi AI dan dapat keliru. Platform sendiri menyatakan bahwa informasinya sebaiknya digunakan sebagai acuan awal untuk mendukung pemantauan publik, bukan sebagai satu-satunya dasar penilaian.
Mengapa Ini Penting
Pengawasan pengadaan pemerintah di Indonesia selama ini sebagian besar bergantung pada kapasitas lembaga formal seperti BPK, KPK, atau BPKP, yang masing-masing punya keterbatasan sumber daya dan jangkauan. Tujuan Nemesis adalah menerapkan audit AI pada skala yang tidak mungkin ditandingi tim manusia. Dengan dashboard yang bisa diakses siapa saja, jurnalis, peneliti, dan warga biasa kini punya titik masuk yang lebih mudah untuk menelusuri anggaran instansi tertentu.
Yang membedakan Nemesis dari inisiatif serupa adalah kombinasi antara skalabilitas AI, transparansi metodologi, dan aksesibilitas publik. Ketiganya jarang hadir bersamaan dalam satu platform pengawasan sipil di Indonesia. Tantangan ke depannya adalah menjaga akurasi model, memperluas cakupan data ke realisasi belanja aktual, dan memastikan temuan yang dipublikasikan tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak produktif.
Artikel ini mengacu pada data dari Assai.id, TIMES Indonesia, Katadata, Warta Kota, dan dokumentasi algoritma Nemesis per April 2026.
