Nama hantavirus kembali muncul di berita global pada awal Mei 2026 setelah sebuah kapal pesiar ekspedisi asal Belanda, MV Hondius, menjadi lokasi wabah yang kini melibatkan setidaknya 8 kasus terkonfirmasi dan suspek, dengan tiga orang meninggal dunia. Wabah ini segera memancing perbandingan dengan awal pandemi COVID-19. WHO dan para ahli penyakit infeksi kompak menjawab: ini bukan COVID, dan situasinya jauh berbeda.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus bukan patogen baru. Virus ini pertama kali diidentifikasi selama Perang Korea dan sudah dipelajari selama beberapa dekade. Pada umumnya, hantavirus ditularkan ke manusia melalui kontak dengan tikus yang terinfeksi, atau melalui paparan terhadap kotoran, urin, dan air liur hewan pengerat tersebut. Infeksi pada manusia bisa menyebabkan dua sindrom utama: hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan jantung, atau hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Tingkat kematiannya tinggi, mencapai 35-50% untuk varian yang paling ganas.
Yang membuat wabah 2026 ini mendapat perhatian khusus bukan karena hantavirus secara umum, melainkan karena varian spesifik yang terlibat.
Mengapa Varian Andes Berbeda
Dari ratusan varian hantavirus yang diketahui, hampir semuanya hanya bisa menular dari hewan pengerat ke manusia. Varian Andes (Andes virus, ANDV) yang endemik di Amerika Selatan adalah satu-satunya pengecualian yang terdokumentasi: ia bisa menular dari manusia ke manusia, meskipun dalam kondisi yang sangat spesifik. Penularan antarmanusia dikaitkan dengan kontak dekat dan berkepanjangan, terutama anggota satu rumah tangga, pasangan intim, atau tenaga medis yang merawat pasien tanpa perlindungan memadai.
Ini yang terjadi di MV Hondius. Berdasarkan investigasi WHO dan otoritas Argentina, kasus pertama (indeks) diduga terinfeksi saat birdwatching di dekat tempat pembuangan sampah di Ushuaia, Argentina, sebelum naik kapal pada 1 April 2026. Pasangan Belanda itu sebelumnya melakukan perjalanan darat empat bulan melintasi Chile, Uruguay, dan Argentina, mengunjungi habitat tikus pembawa virus. Varian Andes kemudian menyebar di antara penumpang yang berada dalam kontak dekat di atas kapal, sebelum wabah teridentifikasi sepenuhnya.
Kronologi Singkat Wabah MV Hondius
Kasus kematian pertama terjadi pada 11 April 2026 di atas kapal, ketika seorang pria Belanda meninggal dengan gejala yang saat itu belum terkonfirmasi sebagai hantavirus. Istrinya yang turut terinfeksi turun di Pulau Saint Helena pada 24 April, dan meninggal dua hari kemudian di rumah sakit Johannesburg. Kematian ketiga, seorang perempuan berkewarganegaraan Jerman, terjadi di atas kapal pada 2 Mei 2026. WHO baru secara resmi mengumumkan klaster wabah ini pada 4 Mei 2026. Per 7 Mei 2026, tercatat 5 kasus terkonfirmasi dan 3 kasus suspek. Sekitar 150 penumpang masih berada di atas kapal yang sempat tertahan di lepas pantai Cabo Verde setelah Kepulauan Canary, Spanyol, menolak kapal tersebut berlabuh.
Kompleksitas wabah ini terletak pada fakta bahwa para penumpang berasal dari 23 negara, dan sebagian sudah turun dan berpencar ke berbagai penjuru dunia sebelum wabah teridentifikasi, memaksa otoritas kesehatan di Singapura, Kanada, Prancis, Swiss, dan negara lainnya untuk melakukan penelusuran kontak secara bersamaan.
Relevansi untuk Indonesia
Kabar yang patut dicermati: per 8 Mei 2026, Indonesia mencatat dua kasus suspek hantavirus. Kemenkes melalui BKPK sudah mengeluarkan kajian kebijakan terkait kesiapan Indonesia menghadapi ancaman ini. Hantavirus sendiri bukan penyakit yang sama sekali asing bagi Indonesia, mengingat populasi tikus yang luas di kawasan permukiman padat, meskipun varian yang biasanya ditemukan di Asia berbeda dari varian Andes dan umumnya tidak menular antarmanusia.
Apakah Ini COVID Berikutnya?
Para ahli penyakit infeksi dan WHO satu suara menjawab tidak, dengan beberapa alasan yang konkret. Hantavirus tidak menyebar semudah COVID-19 atau influenza. Varian Andes memang bisa menular antarmanusia, tetapi hanya dalam kontak dekat dan berkepanjangan, bukan melalui paparan singkat di ruang publik. Hantavirus juga tidak bermutasi secepat virus pernapasan seperti COVID atau flu. Analisis terhadap wabah Argentina 2018 yang menjadi referensi terdekat hanya menghasilkan 34 kasus dengan penularan yang relatif terkendali. Tidak ada pengobatan antiviral spesifik yang tersedia saat ini, namun perawatan suportif di rumah sakit tetap menjadi penanganan utama.
WHO menegaskan risiko kesehatan publik secara global dinilai rendah, dan tidak mengantisipasi terjadinya epidemi besar di mana pun.

