Bayangkan pergi ke sebuah desa dan berpapasan dengan seseorang bernama Karl Marx, lalu bertemu tetangganya yang bernama Engels, lalu mengetahui bahwa anak perempuan si ketua RT bernama Marxia. Di Vannivelampatti, sebuah desa kecil sekitar 40 kilometer dari Madurai di Tamil Nadu, India, ini bukan fiksi dan bukan kebetulan. Ini adalah tradisi yang sudah berlangsung lebih dari enam puluh tahun.
Desa yang Tampak Biasa, tapi Tidak
Dari luar, Vannivelampatti tidak tampak berbeda dari ratusan desa pedesaan Tamil Nadu lainnya. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh pertanian atau pekerja konstruksi di kota-kota terdekat. Ada empat kuil dalam radius satu kilometer. Jalan-jalannya sederhana, rumah-rumahnya sederhana.
Yang membedakannya adalah kantor partai kecil di pintu masuk desa, yang dindingnya dipenuhi potret tokoh-tokoh komunis dunia. Dan nama-nama yang tertera di depan rumah, di kartu identitas, di buku raport sekolah. Jika bertanya nama kepada sepuluh orang di desa ini secara acak, setidaknya delapan di antaranya memiliki nama yang berasosiasi dengan tokoh atau simbol komunisme. Bahkan mereka yang tidak memiliki nama formal semacam itu sering dipanggil dengan nama panggilan yang terinspirasi dari Lenin atau Marx.
Komunisme sebagai Warisan Keluarga
Karl Marx yang tinggal di sini bukan filsuf atau ekonom yang mengubah jalannya sejarah dunia. Ia adalah seorang pekerja konstruksi yang tinggal bersama keluarganya di rumah sederhana satu kamar. Ketika ditanya soal namanya, jawabannya lugas: ayahnya adalah seorang komunis, memberikan nama itu kepadanya, dan ia membawanya dengan bangga.
Ia bukan satu-satunya. Vijay Pandy, seorang kader partai, menamai putrinya Marxia karena sang anak lahir tepat menjelang Kongres Madurai CPI(M). Di desa ini, kelahiran anak bukan hanya peristiwa keluarga. Ia adalah momen untuk merayakan dan memperbarui komitmen ideologis.
Nama-nama seperti Lenin, Karl Marx, Stalin, Engels, Venezuela, Then Indiya, dan Venmani tersebar di seluruh penjuru desa. Ini bukan tren baru, melainkan hasil dari pengaruh sejarah yang sudah berjalan panjang.
Bagaimana Semua Ini Bermula
Menurut Murugan, anggota komite distrik CPI(M), kesadaran politik di kawasan ini mulai terbentuk setelah tahun 1960-an, berakar pada gagasan tentang kesetaraan dan martabat. Pada 1952, sebuah pertemuan buruh tani diselenggarakan di dekat desa tersebut, dan beberapa warga Vannivelampatti hadir dalam konferensi tiga hari itu. Dari situlah benih ideologi mulai tumbuh dan menyebar di antara keluarga-keluarga petani yang selama bertahun-tahun merasa terpinggirkan.
Arumukham, pemimpin partai lokal, mengatakan bahwa sejak partai komunis menjadi berpengaruh di sini pada tahun 1960-an, masyarakat menjadi sadar akan hak-hak mereka. Kekerasan berbasis kasta menjadi hal yang asing bagi desa ini, karena mayoritas penduduknya adalah komunis.
Bertahan di Tengah Perubahan Politik
Yang menarik dari Vannivelampatti bukan hanya keunikannya, melainkan ketahanannya. Meski partai-partai komunis sudah menjadi kekuatan yang secara angka semakin kecil dalam politik elektoral Tamil Nadu, desa ini tetap bangga dengan akar ideologisnya yang bertahan. Di negara bagian yang politik utamanya didominasi oleh partai-partai Dravida seperti DMK dan AIADMK, Vannivelampatti adalah anomali yang berdiri teguh.
Murugan yang mengaku menjadi komunis sejak muda menyebut bahwa ia tidak pernah terpengaruh oleh hal lain, bahkan bukan oleh partai-partai Dravida sekalipun. Bagi penduduk Vannivelampatti, komunisme sudah lama melampaui pilihan politik. Ia adalah identitas, cara pandang, dan cara merawat ingatan kolektif yang mereka anggap penting untuk tidak dilupakan oleh anak cucu.


