MAKNews, JAKARTA – Belakangan ini, perbincangan mengenai kesehatan masyarakat kembali hangat, salah satunya terkait Hantavirus. Mendengar kata “virus,” ingatan kita mungkin langsung melayang ke masa-masa pandemi COVID-19 yang mencekam. Namun, apakah Hantavirus ini berpotensi menjadi pandemi baru yang menular dengan cepat antar-manusia?
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, memberikan penegasan yang menenangkan. Beliau menyatakan bahwa penyebaran Hantavirus bukan terjadi antar-manusia, melainkan melalui hewan pengerat. “99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” tegas Menkes.
Lalu, apa sebenarnya Hantavirus itu? Bagaimana cara kita melindungi keluarga di rumah? Yuk, kita bahas bersama secara santai tapi mendalam!
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus sebenarnya bukan jenis virus baru. Ini adalah kelompok virus yang secara alami hidup di dalam tubuh hewan pengerat tertentu, seperti tikus rumah, tikus got, mencit, hingga celurut.
Uniknya, tikus yang membawa virus ini sama sekali tidak terlihat sakit. Mereka tampak sehat dan aktif seperti biasa, namun urin, kotoran, dan air liur mereka mengandung virus yang bisa berbahaya bagi manusia.
Bagaimana Virus Ini Menular ke Manusia?
Jika Menkes mengatakan 99% penularannya lewat tikus, lalu bagaimana caranya virus dari tikus bisa masuk ke tubuh kita? Jawabannya: Lewat udara yang kita hirup.
Prosesnya begini: ketika kotoran atau urin tikus yang menempel di lantai, gudang, atau loteng mengering, partikel tersebut akan menyatu dengan debu. Saat kita menyapu atau membersihkan ruangan yang kotor tersebut, debu yang mengandung virus akan terbang ke udara dan tanpa sengaja terhirup oleh kita. Proses penularan ini disebut dengan airborne/aerosolization.
Selain terhirup, penularan juga bisa terjadi jika kita menyentuh benda yang tercemar kotoran tikus, lalu langsung memegang mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Kabar Baiknya: Sifat penularan yang bergantung pada tikus ini membuat Hantavirus tidak akan menyebar dari orang ke orang di tempat umum, kantor, atau sekolah. Jadi, kita tidak perlu mengkhawatirkan pembatasan sosial (social distancing) atau lockdown.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Di wilayah Asia dan Eropa, Hantavirus umumnya menyerang organ ginjal dan pembuluh darah, yang dikenal dengan istilah medis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Gejala awalnya sering kali mirip dengan flu biasa atau demam berdarah, seperti:
Demam tinggi yang datang tiba-tiba
Sakit kepala dan nyeri otot (terutama di punggung dan bahu). Mual, muntah, atau lemas
Wajah atau mata memerah, dan terkadang muncul bintik merah di kulit.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memicu penurunan fungsi ginjal akut. Oleh karena itu, jika mengalami demam tinggi setelah membersihkan area yang banyak tikusnya, segeralah memeriksakan diri ke dokter.
Musuh Utama Hantavirus: Kebersihan Rumah!
Karena obat spesifik untuk Hantavirus belum ada, senjata paling ampuh yang kita miliki saat ini adalah memutus kontak dengan tikus.
Berikut adalah tips cerdas dan aman untuk menjaga rumah kita bebas dari ancaman Hantavirus:
1. Jangan Langsung Menyapu Kotoran Tikus!
Ini adalah kesalahan umum yang sering dilakukan. Menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering justru akan menerbangkan virus ke udara.
Solusinya: Semprot atau basahi dulu kotoran/area sarang tikus dengan cairan disinfektan atau campuran air dan pemutih pakaian. Biarkan selama 5 menit agar virusnya mati, lalu bersihkan menggunakan kain pel atau lap basah. Jangan lupa gunakan masker dan sarung tangan!
2. Tutup “Pintu Masuk” Tikus
Periksa sudut-sudut rumah, langit-langit, atau celah di bawah pintu. Tutup celah-celah kecil tersebut menggunakan kawat kasa atau semen agar tikus got tidak bisa menyelinap masuk ke dalam rumah.
3. Amankan Sumber Makanan
Tikus datang karena ada makanan. Simpan bahan makanan, sereal, atau pakan hewan peliharaan dalam wadah plastik atau kaca yang tertutup rapat. Jangan biarkan tempat sampah di dalam rumah terbuka semalaman


