MAKNews, SLEMAN – Di tengah kepungan darurat sampah yang menghantui Yogyakarta sejak penutupan TPA Piyungan, sebuah instalasi industri di Balecatur menjadi pertaruhan baru. Bukan sekadar tempat pembuangan, tapi pabrik pengolah yang menjanjikan kemandirian ekonomi.
Panas matahari di Jalan Wates Kilometer 7, Sleman, siang itu menjadi saksi diletakkannya batu pertama sebuah proyek ambisius. PT Asterra Energy Envirotama (AEE) resmi memulai pembangunan plant pirolisis sampah plastik skala industri pertama di Indonesia. Fasilitas ini bukan proyek mercusuar pemerintah, melainkan inisiatif swasta yang mencoba memutus rantai ketergantungan pada anggaran daerah.
Berdiri di atas lahan seluas 1.008 meter persegi milik BUMD PT Anindya Mitra International, pabrik ini ditargetkan beroperasi penuh pada November mendatang. Kapasitasnya? Lima ton sampah plastik per hari (5TPD). Angka yang mungkin terlihat kecil dibanding tumpukan sampah kota, namun signifikan sebagai langkah awal model bisnis “sampah jadi cuan” yang benar-benar mandiri.
Strategi Dirut AEE, Uyung Pramudiyanto, cukup lugas: mematikan skema tipping fee yang selama ini membebani APBD. Alih-alih meminta bayaran dari pemerintah untuk mengolah sampah, AEE justru membangun ekosistem yang menyerap sampah plastik bernilai ekonomi rendah—jenis yang biasanya ditolak pengepul konvensional—untuk diubah menjadi minyak bakar industri.
“Garda terdepan operasional plant pirolisis ini adalah para pegiat sampah, terutama TPS3R, koperasi, dan bank sampah,” ujar Uyung.
Rencananya, dari setiap ton plastik yang diolah, akan dihasilkan ribuan liter bahan bakar cair. Untuk menjamin rantai pasok hilirnya, AEE telah menggandeng PT Konsulta Semen Gresik sebagai pembeli siaga (off-taker). Dengan kata lain, pasar untuk “minyak sampah” ini sudah tersedia sebelum pabriknya berdiri tegak.


