Dari jendela pesawat yang mendarat di Bandara Ngurah Rai, penumpang bisa melihat titik-titik api dan asap mengepul di wilayah selatan Bali. Bukan kebakaran hutan. Itu warga yang membakar sampah rumah tangga karena tidak ada tempat lain untuk membuangnya.
Akar Masalahnya
TPA Suwung di Denpasar selama ini adalah tulang punggung pengelolaan sampah Bali. Landfill seluas 32 hektar yang berlokasi sekitar 10 kilometer dari bandara itu setiap harinya menerima lebih dari 1.000 ton sampah dari Kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Sampah organik menyumbang sekitar 65% dari total volume tersebut.
Per 1 April 2026, pemerintah melarang masuk sampah organik ke Suwung. Tujuannya jelas dan pada dasarnya benar: mengurangi tekanan pada fasilitas yang sudah mendekati kapasitas penuh, sekaligus mendorong pemilahan sampah dari sumber dan pengolahan organik yang lebih bertanggung jawab. Penutupan total dijadwalkan pada 1 Agustus 2026. Yang jadi masalah adalah penutupan itu datang jauh lebih cepat dari kesiapan infrastruktur penggantinya.
Apa yang Terjadi di Lapangan
Hasilnya langsung terasa. Kebijakan organik ban mengasumsikan sistem yang belum sepenuhnya tersedia. Warga diharapkan memilah sampah dan mengolah sampah organik secara lokal, tapi di banyak kawasan padat, tidak ada alternatif yang nyata. Sampah organik membusuk cepat dalam cuaca tropis, menghasilkan bau, menarik serangga, dan sulit disimpan dalam hitungan jam.
Akibatnya, warga semakin banyak membakar sampah di rumah atau di lahan kosong terdekat, membuang sampah ke sungai, atau meninggalkannya di pinggir jalan, taman, bahkan area sekolah. Dinas Perumahan dan Pekerjaan Umum Denpasar mencatat lonjakan 7 ton sampah yang dibuang ilegal ke sungai setiap harinya.
Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster menyebut jumlah truk yang mengangkut sampah ke Suwung turun lebih dari 50% dalam pekan pertama implementasi sebagai tanda awal keberhasilan. Namun kondisi di lapangan yang dilaporkan warga dan media bertolak belakang dengan angka itu.
Dampak terhadap Kualitas Udara dan Pariwisata
Kualitas udara di kawasan selatan Bali terasa memburuk secara nyata selama periode kebakaran puncak, dengan pembacaan AQI yang mencapai 150 di beberapa titik di Kuta, Canggu, dan Uluwatu. Asap paling pekat terjadi pada pagi-pagi sekali dan malam hari.
Bagi pariwisata, ini adalah sinyal bahaya. Profesor pariwisata dari Universitas Udayana, I Nyoman Sunarta, menyatakan bahwa krisis sampah berpotensi memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan jika tidak ditangani dengan bijak.
Siapa yang Harus Disalahkan?
Aktivis lingkungan Gary Bencheghib, pendiri Sungai Watch, menegaskan bahwa komunitas tidak bisa dipersalahkan atas fenomena ini. Orang-orang membakar sampah karena merasa tidak punya pilihan lain, dan itu mengatakan segalanya tentang kesenjangan dalam layanan pengumpulan sampah. Jawabannya bukan menyalahkan komunitas, tapi memberi mereka alternatif yang nyata.
Masalah yang lebih struktural adalah bahwa penutupan Suwung sudah beberapa kali ditunda, dari Desember 2025 ke Februari 2026, lalu ke April, dan kini Agustus 2026. Setiap penundaan mengutip kendala yang sama: Bali tidak memiliki infrastruktur untuk mengolah lebih dari 1.000 ton sampah yang dihasilkan setiap hari.
Fasilitas pengolahan sampah terpadu Tahura di Denpasar yang saat ini menjadi andalan alternatif baru mampu memproses 180 ton per hari, jauh dari cukup untuk menggantikan kapasitas Suwung.
Jalan ke Depan
Para ahli menyerukan pendekatan yang lebih terdesentralisasi: investasi pada infrastruktur kompos berbasis komunitas, integrasi pemulung ke dalam sistem formal, dan pelibatan desa adat sebagai ujung tombak implementasi dan penegakan kebijakan. Model ini sudah terbukti berhasil di Gianyar, di mana sistem zero waste berbasis komunitas dibangun terlebih dahulu sebelum larangan landfill diberlakukan.
Tenggat 1 Agustus semakin dekat. Sebagai respons awal terhadap tekanan publik, pemerintah mengizinkan Suwung menerima sampah organik dua kali seminggu, namun kebijakan itu hanya berlaku hingga akhir Juli. Tanpa percepatan pembangunan infrastruktur pengolahan yang signifikan dalam tiga bulan ke depan, skenario yang sama berpotensi terulang dalam skala yang lebih besar.
Artikel ini mengacu pada data dari The Jakarta Post, Bloomberg, Hey Bali, The Diplomat, The Bali Sun, The Bali Times, dan Asia News Network per April-Mei 2026.


