Perang Terbuka antara Pakistan dan Afghanistan di Tahun 2026

Perang Terbuka antara Pakistan dan Afghanistan di Tahun 2026

Pada 27 Februari 2026, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mendeklarasikan “perang terbuka” antara Pakistan dan Afghanistan yang dipimpin Taliban. Deklarasi ini datang hanya beberapa jam setelah Afghanistan meluncurkan operasi ofensif besar-besaran terhadap posisi militer Pakistan di sepanjang Durand Line, garis perbatasan yang memisahkan kedua negara.

Ini bukan sekadar retorika politik. Kabul dibom oleh pesawat tempur Pakistan. Kandahar, pusat kekuasaan Taliban, juga diserang. Puluhan pos militer hancur di kedua sisi perbatasan. Dan untuk pertama kalinya sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, dua negara tetangga ini terlibat dalam konflik militer terbuka yang melibatkan serangan udara, pertempuran darat, dan ancaman eskalasi lebih lanjut.


Akar Masalah yang Kompleks

Konflik Pakistan-Afghanistan 2026 bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba. Ini adalah kulminasi dari ketegangan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, dengan akar masalah yang sangat kompleks.

Durand Line yang tidak diakui. Garis perbatasan sepanjang 2.611 kilometer ini dibuat pada 1893 oleh pemerintah kolonial Inggris, memisahkan wilayah Pashtun antara apa yang sekarang menjadi Pakistan dan Afghanistan. Afghanistan tidak pernah secara resmi mengakui perbatasan ini, menganggapnya sebagai garis demarkasi kolonial yang memecah suku Pashtun secara artifisial. Sejak 2021, sudah terjadi 75 bentrokan antara pasukan Afghanistan dan Pakistan di sepanjang garis ini.

Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP). Ini adalah inti dari konflik saat ini. TTP adalah kelompok militan yang berafiliasi ideologis dengan Taliban Afghanistan tapi tujuannya berbeda. Taliban Afghanistan ingin bekerja sama dengan Pakistan, sementara TTP justru bertujuan menggulingkan pemerintah Pakistan dan menerapkan hukum syariah versi mereka sendiri di Pakistan.

Pakistan menuduh bahwa sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, TTP menggunakan wilayah Afghanistan sebagai safe haven untuk merencanakan dan meluncurkan serangan ke Pakistan. Data dari militer Pakistan menunjukkan bahwa lebih dari 1.200 orang, termasuk militer dan sipil, tewas dalam serangan militan di Pakistan sepanjang 2025. Ini dua kali lipat dari angka 2021.

Taliban Afghanistan menyangkal tuduhan ini, mengatakan TTP adalah masalah internal Pakistan dan mendesak Islamabad untuk menyelesaikannya secara domestik. Tapi hubungan antara TTP dan Taliban Afghanistan sangat erat. Mereka memiliki ikatan ideologis, etnis (mayoritas Pashtun), bahkan keluarga. TTP bersumpah setia pada Taliban Afghanistan dan berperang bersama mereka melawan Amerika Serikat selama dua dekade. Meminta Taliban untuk menindak TTP berarti meminta mereka untuk mengkhianati sekutu lama mereka sendiri.


Eskalasi Oktober 2025 dan Gencatan Senjata yang Rapuh

Konflik terbuka pertama terjadi pada 9 Oktober 2025. Sehari sebelumnya, TTP menyerang pasukan Pakistan di provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Sebagai respons, Pakistan meluncurkan Operation Khyber Storm, serangan udara yang menargetkan Kabul, Khost, Jalalabad, dan Paktika. Target utamanya adalah Noor Wali Mehsud, pemimpin TTP yang masuk daftar teroris internasional. Mehsud selamat dari serangan tersebut.

Pada malam 11-12 Oktober, Taliban Afghanistan membalas dengan menyerang beberapa pos militer Pakistan di sepanjang perbatasan. Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Kedua belah pihak mengklaim telah menimbulkan kerugian berat pada lawannya dan menangkap atau menghancurkan beberapa pos perbatasan. Citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada kompleks militer Taliban di Spin Boldak.

Laporan dari UNAMA (United Nations Assistance Mission in Afghanistan) mengungkapkan bahwa 37 warga sipil tewas dan 425 lainnya terluka akibat kekerasan lintas batas di Afghanistan selama periode ini.

Pada 19 Oktober 2025, Qatar mengumumkan bahwa Afghanistan dan Pakistan telah menyepakati gencatan senjata setelah pembicaraan ekstensif di Doha yang dimediasi oleh Qatar dan Turki. Di bawah deklarasi gencatan senjata ini, pemerintah Afghanistan setuju untuk menghentikan dukungan terhadap TTP, sementara kedua belah pihak berjanji untuk menahan diri dari menargetkan pasukan keamanan, warga sipil, atau infrastruktur penting satu sama lain.

Tapi gencatan senjata ini sangat rapuh. Pembicaraan lanjutan gagal menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama, dan insiden-insiden kecil terus terjadi sepanjang akhir 2025 dan awal 2026.


Februari 2026 dan Jalan Menuju “Perang Terbuka”

Februari 2026 adalah bulan yang sangat berdarah bagi Pakistan. Serangkaian serangan teroris mengguncang negara itu dan memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan drastis.

Baca Juga  Perjuangan Ojol Indonesia di Kancah Internasional: Suara Kemed Menggema di ILO Jenewa

Dari 29 Januari hingga 5 Februari, Balochistan Liberation Army (BLA) melakukan serangkaian serangan di seluruh provinsi Balochistan. Pada 6 Februari, sebuah bom bunuh diri meledak di masjid Syiah di Islamabad, menewaskan 36 orang. Serangan ini dilakukan oleh Islamic State Khorasan Province (IS-KP). Pada 16 Februari, TTP menyerang pos pemeriksaan di Bajaur, menewaskan 11 tentara dan seorang anak.

Pada 11 Februari, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif memperingatkan bahwa Pakistan mungkin akan mengambil tindakan terhadap militan di Afghanistan sebelum dimulainya bulan Ramadan jika Taliban tidak mengendalikan aktivitas militan dari wilayahnya.

Pada 22 Februari, Pakistan melakukan beberapa serangan udara terhadap kamp-kamp yang diduga digunakan oleh kelompok militan, termasuk TTP. Pakistan mengklaim serangan ini merespons serangan teroris dalam beberapa minggu terakhir. Taliban menjanjikan pembalasan, mengklaim serangan Pakistan mengenai target sipil, termasuk sekolah agama.

Pada malam 26 Februari, Taliban mengumumkan ofensif terhadap posisi Pakistan di sepanjang Durand Line. Sumber militer Afghanistan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa 10 tentara Pakistan tewas dan 13 pos terdepan ditangkap dalam serangan Kamis malam. Pakistan membantah klaim ini dan mengatakan pasukan mereka memberikan “respons segera dan efektif.”

Pagi 27 Februari, Pakistan meluncurkan Operation Ghazab Lil Haq dengan serangan udara terkoordinasi dan operasi darat. Yang signifikan adalah bahwa Pakistan tidak hanya menyerang posisi perbatasan, tapi juga Kabul dan Kandahar, dua pusat politik utama Afghanistan. Kabul adalah ibu kota resmi, sementara Kandahar adalah tempat tinggal emir Taliban dan pusat kekuasaan mereka.


Klaim dan Realitas di Medan Perang

Seperti dalam kebanyakan konflik, klaim dari kedua belah pihak sangat berbeda dan sulit diverifikasi secara independen.

Pada 1 Maret 2026, Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar mengatakan bahwa 46 lokasi di Afghanistan telah diserang sejak operasi dimulai, termasuk pangkalan Bagram yang dulunya menjadi basis utama Amerika Serikat. Pakistan mengklaim telah membunuh 415 tentara dengan kehilangan 12 tentara mereka sendiri.

Juru bicara Afghanistan memberikan klaim balik bahwa 80 tentara Pakistan tewas dan 27 pos militer ditangkap dengan kehilangan 13 tentara. Juru bicara militer Pakistan mengklaim bahwa angkatan bersenjata telah menghancurkan 73 pos Taliban di sepanjang perbatasan dan menangkap lebih dari selusin posisi lainnya.

Yang pasti adalah bahwa warga sipil menderita. Seorang penduduk Kabul yang diwawancarai oleh CNN menggambarkan momen ketika keluarganya dibangunkan oleh ledakan keras pada Jumat pagi. “Saya sangat ketakutan. Kemudian kami mendengar tembakan. Ketika kami melihat keluar dari jendela apartemen, kami melihat nyala api seperti peluru naik ke langit,” katanya, menambahkan bahwa dia tidak bisa tidur dan masih terjaga pada pukul 5 pagi, takut dengan apa yang bisa terjadi selanjutnya.

UNAMA melaporkan bahwa setidaknya 70 warga sipil tewas dan 478 terluka di Afghanistan antara Oktober dan Desember 2025 saja. Pemerintah Taliban menyatakan bahwa temuan tersebut “mendekati kenyataan.”

Yang mengkhawatirkan adalah bahwa selama konflik, intelijen Taliban memerintahkan media domestik Afghanistan untuk tidak meliput area yang menjadi target serangan Pakistan. Dalam beberapa kasus, personel intelijen memantau kantor media dan operasi ruang berita untuk menegakkan arahan ini. Media diperingatkan untuk tidak menentang perintah. Penduduk juga diperingatkan agar tidak mempublikasikan gambar atau detail lokasi yang menjadi target serangan Pakistan.


Respons Internasional yang Terpecah

Komunitas internasional merespons konflik ini dengan cara yang mencerminkan kepentingan geopolitik masing-masing.

Amerika Serikat menyatakan akan terus memantau situasi dengan seksama dan menyatakan dukungan kepada Pakistan melawan serangan Taliban. Presiden Donald Trump memuji Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir karena berperang melawan pasukan Taliban. Ini adalah pergeseran dramatis mengingat Amerika Serikat sendiri yang berperang melawan Taliban selama dua dekade.

India mengecam serangan keras dan menyatakan dukungan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Afghanistan. Ini mencerminkan persaingan jangka panjang India-Pakistan dan upaya India untuk membangun hubungan dengan pemerintah Afghanistan mana pun yang berkuasa.

Baca Juga  Presiden Prabowo Teken PP Pengupahan, Formula Upah Minimum 2026 Gunakan Indeks Alfa 0,5-0,9

Qatar, yang memediasi gencatan senjata Oktober 2025, kembali menawarkan jasa mediasi dan mendiskusikan cara mengurangi ketegangan dengan Menteri Luar Negeri Pakistan.

Rusia menawarkan untuk memediasi situasi dan mendesak kedua negara untuk menghentikan serangan lintas batas. Rusia memiliki kepentingan dalam stabilitas regional karena kekhawatiran tentang penyebaran militansi ke Asia Tengah.

Arab Saudi, yang memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap selama bentrokan Oktober 2025, juga berusaha mengurangi ketegangan regional.

Selain itu, Bangladesh, Tiongkok, Mesir, Iran, Irak, Yordania, Malaysia, dan Uzbekistan semuanya menyerukan gencatan senjata untuk mengakhiri permusuhan dan mendorong dialog untuk menyelesaikan ketegangan perbatasan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNAMA mendesak kedua negara untuk menghentikan permusuhan dan mengambil langkah untuk mencegah bahaya bagi warga sipil. Richard Bennett, Pelapor Khusus PBB tentang situasi hak asasi manusia di Afghanistan, menyatakan keprihatinan atas serangan udara di Nangarhar dan Paktika, menyerukan kedua belah pihak untuk melakukan “pengendalian maksimal.”


Dinamika Militer dan Kemungkinan Eskalasi

Dari perspektif militer murni, Pakistan memiliki keunggulan yang sangat jelas. Pakistan memiliki angkatan udara modern dengan jet tempur F-16 dan JF-17, sistem pertahanan udara yang canggih, dan tentara yang terlatih dan terorganisir dengan baik. Taliban Afghanistan, di sisi lain, tidak memiliki angkatan udara yang operasional, artileri berat terbatas, dan mengandalkan taktik gerilya yang efektif melawan pasukan konvensional tapi kurang efektif dalam perang antar-negara.

Tapi ini bukan berarti Pakistan bisa dengan mudah “menang” dalam konflik ini. Seperti yang dikatakan oleh analis keamanan Asfandyar Mir, “Drone adalah angkatan udara orang miskin, Taliban Afghanistan punya drone, mereka punya pengebom bunuh diri, mereka inovatif. Setiap pembalasan oleh orang Afghanistan akan terjadi di pusat-pusat perkotaan Pakistan. Ini adalah resep untuk kekacauan dan kekacauan adalah apa yang dicari jaringan teroris untuk berkembang.”

Kemungkinan eskalasi bergantung pada beberapa faktor. Yang paling mungkin adalah bahwa konflik akan segera de-eskalasi, seperti yang terjadi pada Oktober 2025. Periode eskalasi sebelumnya terbatas pada serangan jarak jauh dan pertempuran perbatasan, dan berakhir dengan gencatan senjata.

Tapi retorika Pakistan tentang “perang terbuka” menunjukkan bahwa opsi militer yang lebih signifikan ada di atas meja. Satu opsi adalah kampanye pemboman skala besar terhadap target di Afghanistan, yang akan menjadi kelanjutan dari serangan Jumat yang bertujuan untuk memaksa Taliban menahan TTP atau menurunkan kemampuan TTP untuk melakukan serangan di Pakistan.

Opsi lain adalah operasi darat skala besar terhadap TTP di dalam Pakistan itu sendiri, meskipun ini berisiko memicu perlawanan sengit dan meningkatkan korban sipil.


Kesimpulan untuk Pembacaan Awal

Konflik Pakistan-Afghanistan 2026 adalah hasil dari kontradiksi mendasar yang tidak terselesaikan. Pakistan ingin Taliban Afghanistan mengendalikan TTP, tapi Taliban Afghanistan tidak bisa atau tidak mau melakukannya tanpa mengkhianati sekutu ideologis dan mengancam kohesi internal mereka sendiri.

Durand Line tetap menjadi luka terbuka dalam hubungan bilateral, garis yang ditarik oleh kekuatan kolonial yang tidak pernah benar-benar diakui oleh Afghanistan.

Dan Pakistan sedang menghadapi konsekuensi dari kebijakan luar negerinya sendiri. Selama puluhan tahun, Pakistan mendukung Taliban sebagai cara untuk memastikan “kedalaman strategis” melawan India. Sekarang, Taliban berkuasa di Afghanistan, tapi mereka tidak tunduk pada kepentingan Pakistan. Mereka menjalankan agenda mereka sendiri, dan agenda itu mencakup melindungi TTP.

Untuk memahami konflik ini dengan lebih dalam, diperlukan analisis tentang sejarah dukungan Pakistan terhadap Taliban, dinamika etnis Pashtun di kedua sisi perbatasan, peran aktor regional seperti Tiongkok dan Iran, dan bagaimana penarikan Amerika Serikat dari Afghanistan pada 2021 mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Selatan.

Tapi sebagai bacaan awal, yang perlu dipahami adalah ini bukan konflik sederhana antara “baik” dan “buruk.” Ini adalah konflik yang berakar pada sejarah kolonial, identitas etnis, ideologi politik, dan kepentingan strategis yang saling bertentangan. Dan warga sipil di kedua sisi perbatasan yang membayar harga tertinggi.

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *