Di Manor Farm, seekor babi tua bernama Old Major berkumpul dengan seluruh hewan di peternakan untuk menyampaikan mimpinya tentang masa depan yang lebih baik. Ia berbicara tentang penindasan yang mereka alami di tangan Petani Jones, tentang bagaimana manusia mengambil hasil kerja keras mereka tanpa memberikan imbalan yang adil, dan tentang revolusi yang akan membebaskan mereka semua. “Semua hewan adalah setara,” katanya, sebelum akhirnya mati beberapa hari kemudian.
Hewan-hewan terinspirasi. Mereka memberontak, mengusir Petani Jones, dan mengubah nama tempat itu menjadi Animal Farm. Untuk sementara waktu, semuanya tampak sempurna. Mereka bekerja bersama, berbagi hasil panen, dan hidup dengan tujuh perintah Animalism yang paling terkenal berbunyi “All animals are equal.”
Tapi perlahan, sangat perlahan, segalanya berubah. Babi-babi yang paling pintar mulai mengambil keputusan sendiri. Napoleon, seekor babi yang haus kekuasaan, mengusir rivalnya Snowball dan merebut kontrol penuh atas peternakan. Perintah-perintah Animalism diubah satu per satu untuk menguntungkan babi. Slogan terakhir yang tersisa adalah “All animals are equal, but some animals are more equal than others.”
Di akhir cerita, babi-babi sudah berjalan dengan dua kaki, mengenakan pakaian, dan bermain kartu dengan manusia di rumah petani. Hewan-hewan lain yang melihat dari jendela tidak bisa lagi membedakan mana yang babi dan mana yang manusia.
Ini adalah Animal Farm karya George Orwell, diterbitkan pada 1945. Bukan sekadar dongeng tentang hewan. Ini adalah alegori tajam tentang Revolusi Rusia 1917 dan bagaimana idealisme sosialis dikhianati oleh Stalin. Tapi lebih dari itu, Animal Farm adalah cerita universal tentang bagaimana revolusi bisa dibajak oleh mereka yang haus kekuasaan, dan bagaimana rakyat yang tidak waspada bisa terperangkap dalam siklus penindasan baru yang tidak jauh berbeda dari yang lama.
Dan Indonesia punya cerita yang sangat mirip.
Revolusi yang Dijanjikan dan Revolusi yang Terjadi
Ketika Indonesia merdeka pada 1945, ada janji besar tentang masa depan. Sukarno, bapak bangsa yang karismatik, berbicara tentang kemerdekaan yang bukan hanya politik tapi juga ekonomi dan sosial. Pancasila, ideologi negara, menjanjikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seperti Old Major yang berbicara tentang dunia di mana semua hewan bebas dari penindasan manusia, Sukarno berbicara tentang Indonesia yang bebas dari imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme.
Tapi realitas politik Indonesia pasca-kemerdekaan sangat rumit. Seperti di Animal Farm di mana berbagai faksi hewan bersaing untuk pengaruh, Indonesia juga terpecah antara nasionalis, komunis, tentara, dan kelompok agama yang saling curiga. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada pertengahan 1960-an ketika sekelompok perwira kiri, yang diduga dipengaruhi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia), melakukan kudeta terhadap tujuh perwira tinggi tentara.
Suharto, seorang jenderal yang mengambil alih tentara selama masa kacau ini, menyalahkan kudeta pada PKI. Dalam beberapa bulan berikutnya, ratusan ribu orang yang diduga komunis dibunuh dalam pembantaian massal yang menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terburuk abad ke-20. Ini adalah momen di mana Napoleon mengusir Snowball dari peternakan, menggunakan anjing-anjing penjaganya untuk menyebarkan teror, dan membangun narasi bahwa Snowball adalah pengkhianat yang bekerja sama dengan Petani Frederick.
Orde Baru sebagai Animal Farm Versi Indonesia
Pada 1966, Suharto secara resmi mengambil alih kekuasaan dari Sukarno dan memulai apa yang ia sebut Orde Baru, sebuah istilah yang dirancang untuk membedakan pemerintahannya dari “Orde Lama” Sukarno. Seperti Napoleon yang menjanjikan Animal Farm yang lebih makmur dan terorganisir setelah mengusir Snowball, Suharto menjanjikan stabilitas, pembangunan ekonomi, dan penghapusan partisipasi massa dalam politik yang ia anggap kacau.
Dan untuk beberapa waktu, seperti di Animal Farm di mana hewan-hewan awalnya melihat perbaikan nyata setelah Napoleon berkuasa, Orde Baru memang membawa kemajuan ekonomi yang mengesankan. Dari kehancuran ekonomi di pertengahan 1960-an, industrialisasi cepat mengubah Indonesia menjadi negara yang menjanjikan. Bank Dunia menyebut Indonesia sebagai “East Asian Miracle” di awal 1990-an.
Tapi seperti babi-babi di Animal Farm yang perlahan mengubah perintah-perintah Animalism untuk keuntungan mereka sendiri, Orde Baru juga perlahan mengikis prinsip-prinsip demokrasi yang dijanjikan. Partai politik dibatasi hanya tiga, dan dua di antaranya adalah oposisi yang tidak berarti. Golkar, kendaraan politik utama Suharto, secara resmi bukan partai politik tapi organisasi yang wajib diikuti oleh semua pegawai negeri senior. Suharto tidak pernah mendapat tantangan dalam setiap pemilu yang ia ikuti dari 1973 hingga 1998.
Militer, seperti anjing-anjing penjaga Napoleon, tertanam di seluruh pemerintahan dan ekonomi melalui doktrin dwi fungsi, di mana tentara memiliki peran ganda sebagai kekuatan pertahanan dan kekuatan sosial-politik. Kritik dibungkam. Aktivis demokrasi “diculik” oleh tim khusus tentara yang dipimpin oleh menantu Suharto sendiri, Prabowo Subianto.
Squealer dan Mesin Propaganda
Di Animal Farm, Squealer adalah babi yang tugasnya memanipulasi bahasa dan propaganda untuk membuat hewan-hewan lain percaya bahwa segala keputusan Napoleon adalah untuk kebaikan mereka. Ketika Napoleon mengubah perintah “No animal shall drink alcohol” menjadi “No animal shall drink alcohol to excess” setelah babi-babi mabuk, Squealerlah yang meyakinkan hewan lain bahwa itulah yang selalu tertulis.
Orde Baru punya mesin propaganda yang sangat efektif. Pancasila, yang seharusnya menjadi ideologi pembebasan, dipersonalisasi oleh Suharto sampai pada titik di mana menantang Suharto berarti menantang Indonesia itu sendiri. Pada 1980, sekelompok tokoh termasuk mantan perdana menteri dan jenderal militer mengeluarkan “Petisi 50” yang menuduh Suharto menyalahgunakan Pancasila. Mereka ditekan dan diasingkan dari kehidupan publik.
Media dikontrol ketat. Sejarah ditulis ulang. Pembantaian 1965-1966 digambarkan sebagai tindakan perlu untuk menyelamatkan negara dari komunisme, bukan sebagai tragedi kemanusiaan. Seperti di Animal Farm di mana sejarah dimanipulasi sehingga Snowball yang dulunya pahlawan perang sekarang dianggap pengkhianat sejak awal, sejarah Indonesia di bawah Orde Baru juga ditulis ulang untuk melayani kepentingan rezim.
Boxer dan Rakyat yang Percaya
Salah satu karakter paling tragis di Animal Farm adalah Boxer, kuda pekerja keras yang selalu percaya pada Napoleon. Mottonya adalah “Napoleon is always right” dan “I will work harder.” Ia bekerja sampai runtuh, dan ketika ia tidak lagi berguna, Napoleon menjualnya ke penjagal kuda dengan dalih akan membawanya ke dokter hewan.
Banyak rakyat Indonesia seperti Boxer. Mereka percaya pada janji pembangunan. Mereka bekerja keras, melihat ekonomi tumbuh, dan tidak mempertanyakan konsentrasi kekuasaan dan kekayaan di tangan elite kroni termasuk keluarga Suharto sendiri yang dikenal sebagai “keluarga Cendana”. Pada 1998, Transparency International mengklaim keluarga Suharto telah mengumpulkan lebih dari US$30 miliar.
Legitimasi Orde Baru terletak pada pembangunan ekonomi. Selama ekonomi tumbuh, korupsi, nepotisme, dan kolusi bisa diabaikan. Tapi ketika Krisis Finansial Asia melanda pada 1997-1998, pilar legitimasi ini runtuh. Rupiah jatuh dari Rp 2.600 per dolar menjadi lebih dari Rp 20.000. Perusahaan-perusahaan bangkrut. Pengangguran melonjak. Dan rakyat Indonesia akhirnya sadar bahwa mereka telah dikhianati.
Mei 1998 dan Akhir dari Dongeng
Pada Mei 1998, Jakarta berubah menjadi medan perang. Ribuan bangunan terbakar. Lebih dari seribu orang tewas dalam kerusuhan. Mahasiswa menduduki gedung parlemen, menuntut “reformasi”. Pada 21 Mei 1998, Suharto mengumumkan pengunduran dirinya dalam siaran langsung televisi.
Ini adalah momen ketika hewan-hewan di Animal Farm akhirnya melihat dengan jelas bahwa babi-babi yang mereka percaya sudah menjadi tidak berbeda dari manusia yang mereka gulingkan di awal. Tapi berbeda dengan Animal Farm yang berakhir dengan pesimisme total, Indonesia membuka babak baru yang disebut Era Reformasi.
Pilar-pilar Orde Baru dibongkar satu per satu. Dwi fungsi militer dihapuskan. Pemilu bebas dan adil diadakan untuk pertama kalinya dalam 45 tahun. Desentralisasi kekuasaan memberikan otonomi luas kepada daerah. Kebebasan pers yang selama puluhan tahun dikekang akhirnya dibuka. Lembaga-lembaga baru seperti Mahkamah Konstitusi dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) didirikan untuk mencegah terulangnya represi dan korupsi era Suharto.
Tapi Apakah Reformasi Benar-Benar Berhasil?
Dua puluh delapan tahun setelah jatuhnya Suharto, pertanyaannya adalah apakah Indonesia benar-benar keluar dari siklus yang digambarkan Orwell di Animal Farm, atau kita hanya mengganti satu set babi dengan set babi yang lain?
Banyak elite Orde Baru bertahan dengan kekuasaan dan kekayaan mereka sebagian besar utuh. Anak-anak Suharto masih menjadi tokoh bisnis yang sangat kaya. Tidak ada yang pernah diadili atas pembantaian 1965. Prabowo Subianto, yang diduga menculik dan menyiksa aktivis anti-rezim pada 1998, kini menjadi Presiden Indonesia setelah terpilih pada 2024.
Bahkan ada kebangkitan nostalgia terhadap era Suharto di kalangan generasi muda yang tidak pernah mengalami represi Orde Baru. Bagi mereka, era Suharto tampak seperti masa stabilitas, keamanan, dan kemakmuran. Ada usulan berulang untuk secara resmi mengakui “Pak Harto” sebagai pahlawan nasional.
Banyak pengamat setuju bahwa demokrasi Indonesia yang rapuh kini terlihat semakin terancam. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai era “Neo-New Order”, di mana meskipun demokrasi elektoral tampaknya tertanam, demokrasi liberal terancam oleh populisme dan konservatisme baru.
Seperti yang ditulis Orwell, “Revolutions only effect a radical improvement when the masses are alert.” Revolusi hanya membawa perbaikan radikal ketika massa tetap waspada. Begitu rakyat berhenti mempertanyakan, begitu mereka menerima bahwa “beberapa hewan lebih setara dari yang lain,” siklus penindasan akan berulang.
Pelajaran yang Tidak Pernah Usang
Animal Farm ditulis pada 1945, lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu. Tapi peringatannya tetap relevan di setiap negara, di setiap zaman, termasuk Indonesia hari ini.
Orwell tidak menulis Animal Farm untuk mengatakan bahwa revolusi selalu buruk atau bahwa perubahan tidak mungkin. Ia menulis untuk mengingatkan bahwa revolusi bisa dibajak oleh mereka yang haus kekuasaan, bahwa bahasa bisa dimanipulasi untuk melayani kepentingan elite, dan bahwa rakyat yang tidak waspada akan terperangkap dalam siklus yang sama.
Indonesia telah melewati revolusi kemerdekaan yang berujung pada Orde Lama yang kacau, kemudian revolusi “pembersihan” yang berujung pada Orde Baru yang otoriter, dan akhirnya revolusi Reformasi 1998 yang membawa demokrasi tapi juga ketidakpastian baru.
Pertanyaan yang harus terus kita ajukan adalah apakah kita telah benar-benar belajar dari siklus ini, atau apakah kita seperti hewan-hewan di Animal Farm yang pada akhirnya tidak bisa membedakan antara penindas lama dan penindas baru.
Karena seperti yang dikatakan Orwell lewat Napoleon, “All animals are equal, but some animals are more equal than others.” Dan begitu kita menerima premis itu, kita sudah kalah.

