Jakarta – Pemandangan itu kontras di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Jumat sore, 17 Juli 2026. Ratusan mahasiswa dan rakyat dengan pakaian serba hitam—warna khas yang menyiratkan perlawanan—tertahan oleh barikade aparat keamanan.

Mereka adalah aliansi mahasiswa dan rakyat yang terdiri dari berbagai organisasi, seperti Front Muda Revolusioner, Resistence, Pemuda Sosialis, Serikat Mahasiswa Indonesia, Keluarga Mahasiswa Universitas Terbuka, hingga Serikat Tahanan Politik. Niat hati ingin menggelar orasi di depan Patung Kuda, namun rencana itu kandas sebelum mencapai titik tujuan.
Massa akhirnya terpaksa memarkirkan tuntutan di seberang Gedung Reksadana. Di bawah pengawasan ketat aparat, orasi tetap bergema. Kekecewaan nyata terpancar dari wajah-wajah mereka. Padahal, menurut penuturan massa di lapangan, surat pemberitahuan aksi telah dikantongi, dan kesepakatan lokasi sudah bergeser dari Bundaran HI ke kawasan Patung Kuda. Namun, realitas lapangan berkata lain: akses mereka dikunci rapat.
Dalam selebaran yang beredar, massa membawa narasi yang keras: “Turunkan Harga! Bubarkan Pesta Pora Militerisme Gaya Oligarki!”. Mereka menyoroti timpangnya kebijakan pemerintah, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga kritik tajam terhadap apa yang mereka sebut sebagai “rezim oligarki”.
Hingga menjelang magrib, ketika matahari mulai tenggelam dan suasana Jakarta perlahan mendingin, massa akhirnya membubarkan diri. Penyekatan sore itu menyisakan tanya: apakah suara jalanan masih memiliki ruang di jantung ibu kota, ataukah ia hanya akan terus membentur tembok birokrasi yang kian tebal?


