Saatnya Seniman Menagih Pulang Rumah yang Nyaris Hilang

Saatnya Seniman Menagih Pulang Rumah yang Nyaris Hilang
Bagikan :


Catatan Pinggir Seni dan Kultur
Ada ruang-ruang di kota ini yang dibangun dari semen dan proposal anggaran. Tapi TIM—Taman Ismail Marzuki—dibangun dari rokok kretek yang dibakar tengah malam, dari perdebatan sengit soal estetika, dari peluh seniman yang mencari bentuk, dan dari secangkir kopi pahit yang diaduk sambil merajut masa depan bangsa.
Sayangnya, belakangan rumah tua para seniman ini kedatangan tamu baru: kalkulator laba-rugi.

Gedung-gedungnya megah, lampunya menyilaukan, tapi ada bau asing yang tercium di lorong-lorongnya. Bau birokrasi yang kaku dan tarif sewa ruang yang bikin dompet seniman mendadak sesak napas. Ketika berkesenian mulai diukur dari seberapa banyak pemasukan yang bisa disetor, di situlah seniman, penyair, teaterwan, dan pemusik sadar: mereka sedang diusir secara halus dari rumahnya sendiri.

Dari Secangkir Kopi Menuju Keranda Budaya
Semua bermula dari obrolan santai di forum Ngopi Ngerumpi MPSI pada 18 Juli lalu. Dari meja warung kopi, keresahan itu membesar menjadi mufakat. Tanggal 25–26 Juli 2026, kawasan Cikini bakal bergemuruh.

Bukan sekadar kumpul-kumpul atau mimbar bebas biasa. Para seniman bakal mengarak keranda budaya—sebuah simbol visual yang menohok ulu hati bahwa yang sedang sekarat dan hendak dikubur hari ini bukan jasad manusia, melainkan kebebasan berekspresi dan ruang hidup kesenian itu sendiri.

Jangan sampai seniman datang ke rumah kebudayaan membawa karya, tapi yang ditanya pertama kali justru: ‘Bayar berapa?’ Sebab kalau semua pintu kebudayaan dibuka dengan kalkulator, nanti yang masuk bukan gagasan, melainkan hanya mereka yang punya saldo.”
Terang Den Cupank  Sekjen Rumah Hebat Nusantara.

Seni Bukan Dagangan Grosir

Komersialisasi TIM dinilai sudah keterlaluan. Logika pasar merangsek masuk ke ruang-ruang kreatif yang mestinya steril dari tekanan modal. Ridho Comrade, Ketua Umum DPP GJPI, ikut angkat bicara menegaskan bahwa TIM memiliki ruh dan sejarah yang tidak bisa dinilai dengan metrik investasi atau luas lantai beton.
“Kalau seluruh ruang kebudayaan hanya diukur dari berapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan, lalu di mana ruang bagi gagasan yang belum menghasilkan uang? Di mana tempat bagi seniman muda untuk belajar?” tegas Ridho, Ketua Gerakan Juang dan Pendidikan Indonesia. 

Baca Juga  Gaya Arsitektur yang Keras, Jujur, dan Lebih Indah dari yang dibayangkan, Brutalisme dan Indonesia.

Bagi mereka, kritik yang dibawa lewat puisi, teater, dan musik di jalanan bukanlah bentuk kebencian pada pembangunan. Ini adalah alarm pengingat agar pembangunan kota tidak kehilangan nalar budayanya.

Jangan Biarkan Seniman Jadi Pengungsi di Kotanya Sendiri

TIM adalah rumah bersama. Tempat eksperimen diizinkan gagal, tempat karya-karya radikal lahir tanpa harus takut diusir satpam karena lewat jam malam operasional mal.

Kalau tata kelola ini dibiarkan tunduk pada selera pasar, maka yang tersisa di Jakarta nanti hanyalah kota beton yang kering—di mana senimannya terpaksa pindah kontrakan karena galeri dan panggung pertunjukan sudah berubah wujud menjadi hotel mewah atau ruang komersial penuh tenant waralaba.

Tanggal 25–26 Juli nanti bukan cuma soal memprotes pengelola. Ini adalah penagihan janji sejarah: mengembalikan marwah TIM sebagai rahim peradaban, bukan etalase komersial.

Sebab, jika rumah seni sudah sibuk menghitung uang sewa, jangan heran kalau suatu hari nanti, bangsa ini hanya akan mengenang budayanya lewat brosur pariwisata.***

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *