Kemiskinan Sebagai Konten: Antara Empati, Eksploitasi, dan Algoritma

Kemiskinan Sebagai Konten: Antara Empati, Eksploitasi, dan Algoritma
Bagikan :

Seorang nenek berjualan di pinggir jalan. Kameranya menyorot wajah lelahnya, tangan keriputnya, dagangan yang tidak laku. Narasi suara masuk, sendu dan teratur. Lagu sedih mengalun di latar. Dalam 60 detik, video ini meraup ratusan ribu penonton. Kreatornya mendapat monetisasi, donasi mengalir, nama si nenek trending sebentar, lalu selesai. Esok harinya ada nenek lain, jalan lain, kamera yang sama.

Ini bukan cerita fiktif. Ini adalah format konten yang sudah menjadi industri tersendiri di media sosial Indonesia, dan sudah cukup lama berlangsung untuk layak diperiksa secara serius.

Bukan Fenomena Baru, tapi Skala Barunya Berbeda

Sebelum media sosial, televisi Indonesia sudah lebih dulu melenggangkan format ini melalui acara seperti Mikrofon Pelunas Utang, Uang Kaget, dan sejenisnya. Konten jenis ini selalu laku dan digemari khalayak luas. Yang berubah bukan watak kontennya, melainkan skalanya, kecepatannya, dan siapa yang bisa memproduksinya.

Di era TikTok dan YouTube Shorts, siapa pun dengan smartphone bisa menjadi produser poverty content. Hambatan masuknya hampir nol. Imbalan algoritmiknya tinggi, karena konten yang memancing emosi kuat seperti iba dan sedih cenderung mendapat engagement lebih besar, dan engagement lebih besar berarti distribusi lebih luas. Ini bukan kebetulan, ini adalah insentif yang dibangun ke dalam arsitektur platform.

Prof. Rachmah Ida, pakar kajian media dari Universitas Airlangga, menyebut fenomena ini sebagai poverty porn, yaitu bentuk konten yang secara spesifik menampilkan penderitaan kemiskinan dengan tujuan menggugah rasa iba audiens. Rasa iba menjadi trigger utama yang mendorong penonton untuk terlibat, menyukai, berkomentar, dan menyebarkan konten tersebut.

Bagaimana Kemiskinan Dikemas Menjadi Produk

Formatnya sudah cukup terstandarisasi untuk disebut sebagai genre. Subjek dipilih berdasarkan potensi visualnya yang memancing simpati: usia lanjut, anak-anak, disabilitas, atau situasi yang kontras secara dramatis dengan standar hidup penonton. Pengambilan gambar menekankan detail yang memperkuat kesan kesederhanaan atau penderitaan. Narasi dibangun dengan kurva emosional yang terencana: perkenalan, puncak kesedihan, momen donasi atau bantuan, resolusi yang mengharukan.

Baca Juga  Alarm Ekonomi Lesu : Kredit Investasi Melonjak, Namun Konsumsi dan Modal Kerja Merosot Tajam

Selebriti, influencer, dan kreator konten seakan berlomba mendatangi orang kurang mampu untuk “dikontenkan”, tujuannya menggugah rasa iba penonton, sesekali menyorot ekspresi kasihan subjek, diiringi lagu-lagu sendu. Kemiskinan dipotret sedemikian rupa, dibumbui foto yang menyedihkan, narasi yang mengharu biru, dan backsound yang mendukung.

Yang jarang dipertanyakan adalah: apakah subjek memberikan persetujuan yang sungguh-sungguh? Apakah mereka memahami bahwa kisah hidup mereka akan menghasilkan pendapatan bagi orang lain? Apakah satu kali donasi viral sebanding dengan privasi dan martabat yang dipertukarkan?

Apa yang Diproduksi Selain Simpati

Konten kemiskinan yang diproduksi terus-menerus berpotensi melebarkan jurang antara si miskin dan si kaya melalui proses alienasi, sekaligus melanggengkan mitos-mitos tentang kemiskinan, antara lain bahwa kemiskinan muncul dari kemalasan, dari salah mengurus keuangan, atau dari pilihan pribadi yang buruk.

Ini adalah masalah yang lebih dalam dari sekadar etika konten. Ketika kemiskinan diframing sebagai kondisi individual yang bisa diselesaikan dengan satu donasi viral, ia secara implisit menghapus dimensi strukturalnya: upah yang tidak layak, akses pendidikan yang timpang, sistem jaminan sosial yang lemah, dan kebijakan ekonomi yang tidak berpihak. Penonton merasa sudah berkontribusi setelah menekan tombol donasi, dan pertanyaan tentang mengapa kemiskinan itu ada sejak awal tidak pernah perlu dijawab.

Paradoks ini terlihat jelas pada tren #kesengapsosial yang viral di TikTok dan Instagram pada April 2025, ketika puluhan ribu konten diunggah mempersoalkan ketidakadilan seperti warga berdesakan di KRL sementara pejabat naik jet pribadi. Kesenjangan sosial menjadi topik trending, tapi sebatas trending. Viralitas dan perubahan struktural adalah dua hal yang berbeda, dan algoritma tidak membedakan keduanya.

Kemiskinan yang Diagungkan vs Kemiskinan yang Dianalisis

Ada perbedaan penting antara konten yang mengagungkan kemiskinan, yang menempatkannya sebagai sesuatu yang mulia, autentik, atau inspirasional serta konten yang menganalisis kemiskinan sebagai kondisi yang perlu diubah secara sistemik. Yang pertama menghasilkan rasa hangat di dada penonton tanpa menuntut apapun. Yang kedua tidak nyaman untuk ditonton, tidak ramah algoritma, dan jarang viral.

Baca Juga  Paradox 5,61 Persen

Di sinilah media sosial sebagai infrastruktur menjadi bagian dari masalah. Platform didesain untuk memaksimalkan engagement, bukan pemahaman. Konten yang memproduksi reaksi emosional cepat akan selalu lebih diuntungkan daripada konten yang menuntut pemikiran lebih lambat dan lebih kompleks.

Yang diinginkan oleh subjek dalam konten-konten itu sebenarnya bukan simpati, melainkan lapangan pekerjaan, akses yang merata, hunian yang layak, dan pendidikan yang berkualitas. Tapi permintaan-permintaan itu tidak bisa dikemas dalam 60 detik dengan backsound yang mengharukan. Maka yang diproduksi adalah versi yang bisa dikemas: penderitaan sebagai tontonan, bukan penderitaan sebagai permasalahan yang menuntut pertanggungjawaban kolektif.

Kritik terhadap konten kemiskinan bukan berarti tidak boleh ada konten tentang kemiskinan. Perbedaannya terletak pada pertanyaan sederhana: setelah kamera ini mati, siapa yang lebih baik kondisinya? Subjeknya, atau kreatornya?

Artikel ini mengacu pada analisis dari Prof. Rachmah Ida (Universitas Airlangga), SDGs Center UBL, Kompas.id, Wikipedia #KaburAjaDulu, Universitas Gadjah Mada, dan berbagai laporan media digital Indonesia per 2024-2026.

Bagikan :

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *